Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Rata-rata, korban mengalami luka pada bagian kepala dan tangan. Bahkan beberapa dari mereka mendapat jahitan karena mengalami perdarahan di kepala.
Kepada detikcom, salah seorang korban, Rahmat (17), mengatakan, sebelum kejadian, mereka melihat pusaran angin dari arah timur. Karena panik, mereka berlarian turun ke lantai bawah. Namun, karena pagarnya terkunci, Rahmat dan 13 orang lainnya tertimpa reruntuhan atap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, salah seorang guru, Uni, mengatakan 13 siswa yang terkena reruntuhan itu langsung dibawa ke rumah sakit. Ia juga kaget saat angin datang dengan cepat menyapu bagian atap sekolah yang berlantai dua itu.
"Kita langsung bawa ke rumah sakit. Kami guru-guru juga kaget tiba-tiba suara atap yang diterjang angin itu terangkat dan terbang hingga beberapa meter," sebutnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pihak sekolah telah memutuskan meliburkan siswa hingga Senin mendatang. Meski satu ruang kelas rusak, menurut dia, masih banyak ruang kelas lain yang bisa digunakan siswa untuk belajar.
Selain sebagai ruang kelas belajar anak SMA Pergis, ruangan yang rusak itu sehari-hari digunakan sebagai ruang belajar mahasiswa Universitas Muslim Maros (Umma).
"Rencananya diliburkan sampai Senin, karena masih ada beberapa ruang kelas yang bisa kita gunakan untuk belajar. Ruangan itu juga dipakai belajar untuk mahasiswa," paparnya.
Selain ruang kelas ini, Belasan rumah di dua Kecamatan Turikale dan Kecamatan Lau Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, juga rusak akibat diterjang angin puting beliung. (asp/asp)










































