Dua Balita Kurang Gizi Dirawat di RS PGI Cikini
Senin, 20 Jun 2005 00:13 WIB
Jakarta - Dua bayi usia 1,5 tahun yang terindikasi kurang gizi, yakni Ilan Suyandi dan Ari Firmansyah, kini dirawat intensif di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta.Ilan Suyandi yang merupakan anak dari pasangan Dangati (20) dan Suherman (20) yang mulai dirawat sejak Jumat (17/6/2005) lalu dan Ari Firmansyah dari pasangan Rusmiati (35) dan Sumarno (38) yang mulai rawat-inap sejak Sabtu (18/6/2005). Keduanya dirujuk ke RS Cikini dengan bantuan dana dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan, Manggarai, Jakarta. "Kalau tidak dari LBH, saya tidak tahu harus kemana," ujar Dangati ketika ditemui detikcom di RS Cikini, Minggu (19/6/2005). Menurut Dangati, Ilan menderita kurang gizi karena belum pernah diimunisasi sejak lahir. Ia sudah pernah mencoba datang ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dekat rumahnya, Kelurahan Cipinang Baru. Tapi yang selalu dilakukannya hanya menimbang berat tubuh Ilan. "Saya nggak tahu kapan bisa diimunisasi. Saya juga gak tahu gimana mendapatkan imunisasi," ungkapnya seraya ditimpali oleh ibunya, Dasiri (40). Ilan mulai memperlihatkan gejala sakit seperti badannya yang panas, batuk bahkan sampai kejang-kejang sejak 2 bulan lalu. Namun saat itu, yang menjadi obatnya hanya sirup dan obat batuk untuk bayi yang didapatnya di toko-toko terdekat. Dangati menambahkan, perubahan membaik pun kini tidak juga mulai tampak. "Sampai 3 hari ini belum juga buang air besar. Tapi beratnya sudah meningkat 1,5 kg dari sebelum masuk 6 kg," ujar seorang istri penjual barang bekas ini sambil memperlihatkan kaki Ilan yang bengkok dan kejang-kejang. Lain halnya dengan Ari yang sebelum dirawat di RS Cikini, pernah pula dirawat selama 5 hari di RS Suroso sejak 14 Mei 2005. Ari, anak ketiga dari 3 bersaudara kini memperlihatkan perubahan membaik. "Sebelumnya dia cuma naik 1 ons setiap harinya. Tapi sejak masuk sini, sudah naik 1,6 kg," ungkap Rusmiati sambil menyuapi roti ke Ari. Rusmiati mengaku belum jelas benar apa sebenarnya yang diderita Ari. Sampai kini yang harus dilakukannya hanyalah memaksa Ari untuk selalu makan nasi. Walau tak jarang, Ari selalu memuntahkan makanan yang disuapinya. "Kata Dokter, kalau Ari tidak makan, maka akan dibantu dengan selang," kata warga Kelurahan Mangga Dua, Jakarta ini. Sejak 2 Juni 2005, perut Ari yang awalnya membuncit sudah mulai kempes. Namun setelah keluar dari RS Suroso karena tidak punya uang perawatan lagi, tubuh Ari kembali parah. Saat itu, menurut Rusmiati, Ari sering menangis dan sering memuntahkan makanan yang dimakannya. "Dokter di RS Suroso bilang busungnya busuk. Tapi sekarang sudah benar-benar kempes dan mulai bisa berdiri dan duduk," tambah istri seorang supir truk ini.
(san/)











































