Megawati 'Sentil' SBY

Megawati 'Sentil' SBY

- detikNews
Minggu, 19 Jun 2005 16:31 WIB
Jakarta - Tampil di hadapan ribuan pendukungnya, Megawati Soekarnoputri 'menyentil' proses pemilihan presiden tahun lalu dimana SBY mengalahkan dirinya. Kemenangan SBY hanya dilandasi sebagian rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan dengan cepat, namun setelahnya justru rakyat harus menanggung penderitaan seiring dengan berbagai macam kenaikan harga. Wah!"Sekarang ini saya ketawa. Kalau orang bilang ke saya bahwa inilah kalau berkeinginan perubahan dengan cepat. Akhirnya harga-harga ganti harga. Saya santai saja. Lha wong itu pilihan rakyat," sindir Ketua Umum PDI Perjuangan ketika memberikan sambutan di Kampanye Akbar Bambang-Arif di Gelora Pantjasila, Jl Indragiri, Surabaya, Minggu (19/6/2005). Sindiran Mega belum habis. Saat Pilpres 2004, dirinya menyampaikan keinginan untuk meneruskan program-program yang telah ditata. Namun, ada yang menolak dengan alasan ada yang mampu melakukan perubahan secara cepat."Kekalahan saya itu gara-gara ibu-ibu itu. Tidak ada yang mendukung. Kata teman-teman karepe ibu-ibu itu pingin yang ganteng," ucapnya disambut gemuruh teriakan "Mega-Bambang-Arif".Maraknya penderita busung lapar di sejumlah daerah juga sempat mengagetkan mantan presiden RI ke lima itu. "Ibu-ibu bilang ke saya harga susu mahal sehingga banyak busung lapar. Saya hanya bilang, ya itulah pilihanmu," jawab Mega singkat.Namun meski begitu, Mega bisa menerima kenyataan yang terjadi meski resiko harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia. "Itulah namanya demokrasi. Dulu ada kekawatiran gontok-gontokan. Tapi kenyataannya tidak kan. Rakyat sekarang semakin cerdas," jelasnya.Megawati mengaku kaget setengah mati dengan adanya busung lapar di sejumlah daerah. Dia mengaku sulit membayangkan apabila Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya, masih ada warganya yang mengalami busung lapar."Saya kagetnya setengah mati. Masya Allah, saya tidak bisa menerangkan dengan kata-kata. Di Indonesia, kacang hijau dilemparkan ke tanah saja bisa tumbuh," katanya. (atq/)


Berita Terkait