DetikNews
Selasa 30 Januari 2018, 19:59 WIB

Busyro Minta Arief Hidayat Mundur demi Marwah MK dan Citra Pribadi

Haris Fadhil - detikNews
Busyro Minta Arief Hidayat Mundur demi Marwah MK dan Citra Pribadi Busyro Muqoddas (Usman Hadi/detikcom)
Jakarta - Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas meminta Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mundur demi menjaga marwah lembaga. Selain itu, mundurnya Arief akan menyelamatkan citra pribadinya sebagai pejabat negara.

"Pertama, itu akan membawa dampak positif pada MK. Kedua, dalam waktu yang bersamaan, kalau Pak Arief mundur, arus munculnya public distrust terhadap MK bisa diminimalkan. Bagi Pak Arief pribadi, akan terselamatkan image-nya ke depan," kata Busyro di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (30/1/2018).

Menurut mantan pimpinan KPK ini, Arief seharusnya memikirkan citra diri setelah menjabat karena dia merupakan pejabat negara. Busyro mengatakan pejabat Indonesia sering mengabaikan citra pribadi saat pensiun.


"Investasi terdepan setelah orang menjabat itu jarang diperhitungkan pada umumnya oleh sebagian pejabat di Indonesia ini. Yang dipikirkan selama menjabat. Jarang yang berpikir setelah menjabat itu ending image-nya seperti apa," ucap eks Ketua Komisi Yudisial (KY) itu.

Busyro Minta Arief Hidayat Mundur Demi Marwah MK dan Citra PribadiKetua MK Arief Hidayat (Kanavino/detikcom)

"Dalam konteks ini, saya kenal baik dengan Pak Arief, maka permohonannya bukan pemaksaan, mohon supaya rela mengundurkan diri," tambah Busyro.

Sementara itu, akademisi hukum Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti mencontohkan mundurnya eks hakim MK Arsyad Sanusi. Ia menyebut saat itu Arsyad mundur karena diberi sanksi teguran.


"Pak Arsyad dulu kena sanksi teguran juga mundur karena dia malu. Menurut saya, itu lebih baik seperti itu. Nah ini, dua kali tidak mau mundur juga," ucap Bivitri dalam kesempatan yang sama.

Sebelumnya, Ketua MK Arief Hidayat dikenai sanksi lisan oleh Dewan Etik. Sanksi ini diberikan kepada Arief karena pertemuannya dengan anggota Komisi III DPR menjelang fit and proper test hakim MK di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta Pusat.

'Kartu kuning' itu merupakan sanksi kedua yang didapat Arief. Sanksi Dewan Etik pertama untuk Arief adalah soal katebelece kepada pejabat kejaksaan.
(haf/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed