Karyawan RSUD Temanggung Bantah Tuduhan Bupati
Sabtu, 18 Jun 2005 19:32 WIB
Temanggung - Permasalahan di Temanggung masih berlanjut. Kali ini, karyawan RSUD Djojonegoro Temanggung membantah pernyataan Bupati Totok Ary Prabowo, yang menuduh demo ratusan karyawan RSUD, PNS dan masyarakat sebagai aksi bayaran."Bupati jangan asal bunyi. Mana mungkin kami nyuruh dan bayar orang pakai pakaian perawat putih-putih kemudian ikut demo," kata Ketua Komite Medik RSUD Djojonegoro Dr Budi Raharjo kepada wartawan di kantornya, Jl. Sutomo, Temanggung, Sabtu (18/6/2005).Sebelumnya, Totok saat diwawancara sebuah televisi swasta mengatakan, aksi para tenaga medis RSUD itu sudah direkayasa. Berdasarkan laporan intel Kodim Temanggung, Totok menyebutkan ada penjual bunga yang didandani sebagai perawat dengan pakaian putih dan ada tukang ojek yang dibayar untuk ikut demo.Menurut Budi, aksi tersebut adalah murni dari para karyawan RSUD dan puncak dari semua masalah yang terjadi di Temanggung saat ini. "Jadi lebih baik bupati melihat permasalahan ke belakang mengapa banyak orang berdemo," katanya.Semua ambulan yang digunakan untuk demo beberapa hari lalu adalah mobil milik RSUD dan beberapa puskesmas. Sedangkan tenaga medis yang ikut demo, kata Budi, juga jelas identitasnya dengan tanda badge dinas kesehatan atau RS."Sampai saat ini, para pejabat baru yang akan menduduki jabatan baru di RSUD seperti kepala bagian tata usaha dan direktur juga masih belum berani masuk," ungkapnya.Sementara itu, berdasarkan pantauan detikcom, hari ini para PNS Temanggung masih melakukan aksi mogok kerja. Sebagian besar mereka masih melakukan aksi duduk-duduk di sekitar kompleks kantor Sekretariat Daerah (setda) Loka Bhakti Praja Temanggung, Jl. Ahmad Yani sambil menunggu jam pulang kantor.Sedangkan Totok selama aksi demo, juga tidak pernah berada di kantornya yang menjadi satu kompleks dengan kantor setda. Totok lebih banyak berada di rumah dinasnya di sebelah utara Alun-alun Kota Temanggung.Di sekitar kantor setda, kantor Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan saat ini penuh dengan coretan-coretan cat semprot warna merah. Isi coretan itu berupa kecaman terhadap bupati dan pejabat kantor yang mendukung bupati.Tidak hanya di tempat itu, tembok pagar sekeliling kantor DPRD Temanggung di Jl. Suprapto juga penuh coretan. Coretan-coretan itu diantaranya bertuliskan 'Totok harus turun, Totok mana nyalimu?, Totok=gerbang dosaku,' (plesetan dari slogan kota Temanggung Gerbang Dusunku).Mantan camat Tembarak Agus Widodo mengatakan, bila ada pelayanan umum kepada masyarakat yang tertunda akibat aksi mogok ini, adalah resiko. Pelayanan umum di kecamatan untuk KTP, KK atau surat-surat lainnya ada yang tertunda tapi ada juga kecamatan yang masih melayani."Kalau persoalan ini tidak segera diselesaikan, kasihan masyarakat. Kalau saya, saya tidak berani menandatangani surat, karena bisa dianggap cacat hukum karena yang tandatangan sudah bukan camat," kata Agus, yang saat ini dimutasi menjadi staf bupati tanpa jabatan.
(fab/)











































