Kapok, 2 WNI Korban Sandera Tak Mau Kerja Lagi Pada Bonggaya
Sabtu, 18 Jun 2005 17:26 WIB
Jakarta -
Menjadi sandera sampai 2,5 bulan tentu sungguh penuh penderitaan. Erikson Hutagaol (23) dan Yamin Labuso (26) tampak masih sangat stress. Keduanya pun kompak menyatakan tobat, tak mau bekerja lagi pada kapal Malaysia, Bonggaya."Sementara ini saya akan beristirahat dulu. Tobat saya," kata Yamin Labuso dalam jumpa pers usai acara serah terima dua korban sandera itu kepada keluarganya di kantor Deplu, Jl. Pejambon, Jakarta, Sabtu (17/6/2005). Pernyataan Yamin langsung disambar Erikson dengan pernyataan yang sama. "Sama. Saya juga tobat," kata Erikson. Bonggaya sendiri bersikap terbuka jika kedua orang itu akan kembali bekerja. Yamin dan Erik masih akan digaji hingga 6 bulan ke depan meskipun berhenti kerja. "Perusahaan tetap terbuka. Bila mereka masih ingin bekerja ya tentu akan diterima," kata Triono Wibowo, pimpinan kelompok kerja Deplu untuk pembebasan sandera. Saat jumpa pers itu, Yamin mengenakan kemeja abu-abu terang dan celana putih. Sedangkan Erik memakai kemeja biru muda dipadu jeans biru tua. Namun busana warna terang itu tak mampu menyembunyikan wajah lelah kedua lelaki itu.Yamin yang berperawakan sedang, kulit gelap dan berambut ikal kelihatan sangat lelah. Erik dengan perawakan hampir sama tinggi dengan Yamin, namun wajahnya lebih bulat dengan ciri khas batak itu, juga terlihat masih tertekan. Yamin, Erikson dan Ahmad Resmiadi disandera kelompok Jammi Al Islamiah Mindanao Selatan sejak 30 Maret 2005 lalu. Yamin dan Erik berhasil dibebaskan oleh militer Filipina pada 12 Juni 2005 lalu. Sedangkan Resmiadi hingga kini masih disandera. Kedua korban sandera mengaku terakhir kontak dengan Resmiadi 15 hari sebelum dibebaskan. Saat itu, Resmiadi mengaku dalam keadaan sehat. "Waktu itu Resmiadi mengaku kesehatannya cukup baik," kata Yamin sedih. Selama disandera, kedua orang itu kesulitan makan. Mereka seperti harus melakukan puasa daud, karena sehari makan, maka sehari berikutnya tidak makan. Namun mereka menegaskan penyandera tidak pernah melakukan penyiksaan. "Tidak ada disiksa," kata Yamin. Keduanya hingga kini tak tahu siapa penyandera mereka. Para penyandera jumlahnya banyak. Selain itu mereka memakai topeng dan menggunakan bahasa yang tak dipahami kedua korban sandera itu. "Kami tak bisa memperkirakan," katanya. Pernahkah terpikir untuk melarikan diri? Yamin dan Erik menyatakan tak berani melarikan diri karena tak tahu harus lari ke mana. Kondisi wilayah Filipina Selatan memang sangat terpencil dan terdiri dari ratusan pulau.
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
