DetikNews
Selasa 30 Januari 2018, 16:28 WIB

Disebut Radikal di Survei, Ini Tanggapan FPI

Jabbar Ramdhani - detikNews
Disebut Radikal di Survei, Ini Tanggapan FPI Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif (Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Sebuah survei menyatakan muslim Indonesia tak suka terhadap ormas radikal. Front Pembela Islam (FPI) disebut sebagai salah satu ormas radikal.

FPI masuk kategori tersebut bersama ISIS, Jamaah Islamiyah, Al-Qaedah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), DI/NII, Jamaah Anshar Daulah (JAD), dan Laskar Jihad.

Terkait dengan survei tersebut, juru bicara FPI Slamet Maarif mengatakan menghargai survei ilmiah itu. Dia juga mengaku paham akan hasil-hasil survei yang dipublikasikan.

"Kami menghargai hasil survei yang ilmiah dan kami juga paham betul dengan siapa yang buat survei. Nggak kaget kami," kata Slamet lewat pesan singkat, Selasa (30/1/2018).

[Gambas:Video 20detik]


Slamet bicara lebih jauh soal organisasinya yang dimasukkan ke kategori ormas radikal. Menurutnya, umat sudah cerdas untuk dapat membedakan motif digelarnya survei-survei.

"Nggak (ada tanggapan lagi)-lah, umat juga sudah cerdas mana survei murni, mana survei pesanan," tutur Slamet.

Sebelumnya diberitakan, survei ini dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan didukung UN Women dan Wahid Foundation. Ini bagian dari program UN Women yang didukung pemerintah Jepang bertajuk 'Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018'.

Salah satu poin survei menghasilkan data muslim yang antiormas radikal sebanyak 51,7 persen. Sementara itu, yang tak bersikap sebanyak 39,2 persen dan yang pro-ormas radikal sebanyak 9,0 persen.


Kemudian, data tersebut menyebutkan muslimah yang antiormas radikal sebanyak 49,0 persen, yang tak bersikap 40,5 persen, dan yang pro-ormas radikal 10,5 persen.

Muslimin yang antiormas radikal sebanyak 54,1 persen, yang tak bersikap 38,1 persen, dan yang pro-ormas radikal 7,8 persen.

Ternyata dari sini terlihat, lebih banyak muslimah pro-ormas radikal ketimbang muslimin pro-ormas radikal.

Survei dilakukan pada 6-27 Oktober 2017, dengan melibatkan 1.500 responden laki-laki (50 persen) dan perempuan (50 persen) di 34 provinsi. Teknik yang digunakan adalah multistage random sampling. Margin of error kurang-lebih 2,6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan via wawancara. Survei ini bertemakan 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslim Indonesia'.
(jbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed