Muslimah Lebih Emoh Radikal Ketimbang Muslimin Indonesia

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 29 Jan 2018 13:27 WIB
Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Jakarta - Meski sempat mencuat calon pembom dari kaum perempuan Indonesia pada 2016 lampau, namun ternyata survei menyatakan kaum perempuan Indonesia lebih menolak radikalisme bila dibanding kaum pria.

"Perempuan lebih tidak bersedia radikal dibanding laki-laki," kata Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman (Yenny) Wahid, di Hotel JS Luwansa, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (29/1/2018).


Dia memaparkan survei 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia'. Di survei itu ada laporan soal potensi radikalisme.

Terlihat dari semua perempuan yang disurvei, 80,8% tidak bersedia radikal. Namun untuk pria, dari semua yang disurvei hanya 76,7% yang tidak bersedia radikal. Ada 2,3% perempuan yang bersedia radikal, dan ada 5,2% pria yang bersedia radikal.

Ada 0,1% perempuan yang pernah ikut serta dalam radikalisme, dan ada 0,4% pria yang pernah ikut dalam radikalisme. Yang tidak punya sikap asa 16,7% dari perempuan dan 17,7% dari pria.

'Radikalisme' di sini diartikan berdasarkan pengertian yang telah mereka tentukan sendiri. Radikalisme bagi para peneliti di sini mencakup enam indikator. Pertama, ikut merencanakan atau ikut melakukan razia tempat-tempat yang bertentangan dengan Islam (diskotek, pelacuran, perjudian). Kedua, berdemonstrasi terhadap kelompok penoda agama.


Ketiga, meyakinkan orang lain seperti teman atau saudara agar ikut berjuang menegakkan syariat Islam. Keempat, menyumbang dalam bentuk materi (uang, barang) untuk organisasi penegak syariat. Kelima, melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain. Keenam, membantu kelompok Islam memprotes pihak penista agama.

"Kalau sekadar menggerutu, itu bukan radikalisme. Tapi kalau sudab sampai ke perusakan, bentrok fisik, maka itu sudah masuk sebagai radikalisme," kata Yenny.

Potensi radikalisme paling banyak adalah menyumbang dalam bentuk materi dan meyakinkan orang lain. Dibanding laki-laki, jumlah perempuan yang pernah dan bersedia radikal jauh lebih sedikit, misal dalam keikutsertaan demonstrasi, razia, protes, dan penyerangan rumah ibadah.

Ada 27,6% perempuan responden yang pernah menyumbang dalam bentuk materi untuk tindakan radikalisme, dan ada 29,1% pria yang pernah menyumbang. Ada 17,6% perempuan yang pernah meyakinkan orang lain ikut memperjuangkan syariat Islam, dan ada 19,8% pria di aspek ini. Ada 8,4% perempuan yang melakukan demonstrasi terhadap kelompok penoda agama, dan ada 15,8% pria yang melakukannya. 7,4% Perempuan pernah ikut razia dan 14,8% pria responden mengaku pernah ikut razia juga. 5,6% Perempuan membantu kelompok Islam yang memprotes penista Islam, dan 9,5% pria membantu hal serupa. Ada 1,1% perempuan responden yang mengaku pernah terlibat penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain, dan 2,7% peia mengaku pernah terlibat hal serupa.


Survei ini juga menunjukkan perempuan yang intoleran (55%) lebih sedikit dibanding pria (59,2%). Perempuan (53,3%) juga memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibanding laki-laki (60,3%).

Survei dilakukan pada 6 sampai 27 Oktober 2017, melibatkan 1.500 responden laki-laki dan perempuan dk 34 provinsi. Teknik yang digunakan adalah multistage random sampling. Margin of error kurang lebih 2,6% pada tingkat kepercayaan 95%. Metode survei dilakukan via wawancara.

Survei dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), didukung oleh UN Women dan Wahid Foundation. Ini adalah bagian dari program UN Women yang didukung Pemerintah Jepang bertajuk 'Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018'. 54,7% Survei dilakukan di Jawa, selain itu dilakukan pula di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali. (dnu/tor)