Survei Toleransi Keagamaan Muslimah, Puan: Banyak Hal Mencengangkan

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 29 Jan 2018 13:14 WIB
Foto: Menteri Puan Maharani di Survei Wahid Foundation bertajuk 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia'. (Jati-detikcom)
Jakarta - Isu toleransi sosial keagamaan menjadi perhatian seiring meningkatnya isu radikalisme. Kaum perempuan dipandang sebagai kelompok yang mampu meredam masyarakat agar tak terseret arus radikalisme.

"Banyak hal dalam survei ini cukup mencengangkan. Namun apakah kita mau menerima atau tidak menerima, silakan dibahas. Kitalah yang menentukan semua ini ke depan," kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani di Hotel JS Luwansa, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (29/1/2018).

Puan memberikan sambutan dalam peluncuran hasil survei Wahid Foundation menggelar survei nasional bertajuk 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia'. Hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yembise, Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman (Yenny) Wahid, hingga Sinta Nuriyah Wahid istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. Ada pula Wakil UN Women, Sabine Machl.

"Masih banyak hal yang harusnya tidak terjadi di Indonesia namun sekarang sudah mulai ada di Indonesia. Apakah kita ingin mengubah perilaku kita seperti bukan orang Indonesia? Karena saya rasa potret Indonesia sesungguhnya adalah kemajemukan dan kebinekaan," kata Puan.


Intoleransi mengganggu kebinekaan dan kemajemukan. Secara umum, Puan mengajak perempuan dan laki-laki untuk menjaga kebinekaan. Namun di tangan kaum ibu, nasib generasi bangsa ke depan digantungkan.

"Bung Karno mengatakan manakala baik perempuannya, maka baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri," kata Puan.

Direktur The Wahid Foundation Yenny Wahid sebelumnya menjelaskan kenapa survei ini dilakukan terhadap kalangan muslimah saja. Sebab, survei yang berobjek masyarakat umum sudah banyak, namun yang berobjek masyarakat muslim masih jarang.

"Dalam analisanya, survei ini juga menunjukkan rekomendasi terkait peran perempuan muslim dalam membangun nilai toleransi dan perdamaian," kata Yenny. Selanjutnya, Yenny memaparkan hasil survei ini.

Survei Wahid Foundation bertajuk 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia'Survei Wahid Foundation bertajuk 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia' Foto: Jati-detikcom

Survei dilakukan pada 6 sampai 27 Oktober 2017, melibatkan 1.500 responden laki-laki dan perempuan di 34 provinsi. Teknik yang digunakan adalah multistage random sampling. Margin of error kurang lebih 2,6% pada tingkat kepercayaan 95%. Metode survei dilakukan via wawancara.

Survei dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), didukung oleh UN Women dan Wahid Foundation. Ini adalah bagian dari program UN Women yang didukung Pemerintah Jepang bertajuk 'Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018'.

Salah satu komponen survei, ada laporan soal 'dukungan terhadap kebebasan menjalankan ajaran agama'. Pertanyaan yang disodorkan ke responden yakni soal setuju atau tidak setuju bila semua warga negara Indonesia bebas menjalankan ajaran agama termasuk di luar agama yang dikenal di Indonesia (Yahudi, Sinto, Sikh, Zoroastrianisme).

Hasilnya, 79% responden setuju, 6,4% tidak setuju, 14,6% tidak punya sikap. Namun bila responden dipisah berdasarkan perempuan dan laki-laki, maka terlihatlah bahwa perempuan lebih toleran ketimbang laki-laki.

80,7% Perempuan setuju kebebasan beragama. Adapun laki-laki yang setuju kebebasan beragama hanya 77,4%. Namun perempuan yang tidak setuju kebebasan beragama sebesar 7,2% sedangkan laki-laki ada 5,6%. Yang tak punya sikap atau tidak menjawab, perempuan ada 12,1% dan laki-laki ada 17,0%.

54,7% Survei dilakukan di Jawa, selain itu dilakukan pula di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali.

(dnu/idh)