Ditanya Biaya Perawatan Bupati Rita, dr Sonia: Kasih Tahu Nggak Ya

Haris Fadhil - detikNews
Jumat, 26 Jan 2018 17:28 WIB
dr Sonia Wibisono usai diperiksa KPK Foto: Haris Fadhil/detikcom
Jakarta - Dokter Sonia Grania Wibisono mengaku kenal dengan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari. Perkenalan itu disebutnya terjadi di acara sosialita 10 tahun lalu.

"Saya kenal sama beliau bu Rita itu sudah lama banget. Antara 5 sampai 10 tahun lalu. Saya pernah jumpa dia cuma sekali, di acara sosialita. Acara sosialita itu rame banget tempatnya rame dan banyak orang. Saya kenalan sebagai teman sosialita," kata Sonia usai diperiksa di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/1/2018).

Sonia yang diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pencucian uang dengan tersangka Rita ini enggan menjelaskan soal materi penyidikan. Ia mengaku hanya sekali bertemu dengan Rita.

dr Sonia Wibisono usai diperiksa KPKdr Sonia Wibisono usai diperiksa KPK Foto: Haris Fadhil/detikcom

"Saya sudah sampaikan semua ke penyidik tanya saja. Saya nggak ada hubungan dekat atau spesial. Saya waktu itu hanya sekali saja ketemu di acara sosialita saja. Tempatnya berisik, dan ramai," ucapnya.


Saat ditanya apakah ia pernah menangani perawatan kecantikan Rita, Sonia tak menjawab secara lugas. Ia juga enggan menjawab soal berapa uang yang dikeluarkan Rita untuk biaya perawatan kecantikan serta soal pernah menerima barang dari Rita atau tidak.

"Apa hayo. Kasih tahu nggak ya," ucapnya.

Kemudian, Sonia berharap tak dipanggil untuk menjadi saksi di persidangan Rita nantinya. "Mudah-mudahan nggak ya," ucapnya.

Sonia sendiri sebenarnya telah dipanggil KPK, Selasa (23/1) kemarin, namun tidak hadir. Pemeriksaan terhadap Sonia dilakukan dalam rangka mencari tahu tentang penggunaan kekayaan Rita untuk perawatan kecantikan.


Sebelumnya, Rita telah ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam tiga kasus. Pertama, untuk sangkaan suap, Rita diduga menerima suap Rp 6 miliar dari Hery Susanto Gun selaku Direktur Utama PT Sawit Golden Prima (SGP).

Uang itu disebut diterima pada Juli dan Agustus 2010 untuk pemberian izin lokasi guna keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, kepada PT SGP.

Kedua, dalam dugaan gratifikasi, Rita bersama Khairudin selaku Komisaris PT Media Bangun Bersama diduga menerima uang sebesar USD 775 ribu atau setara dengan Rp 6,975 miliar. Gratifikasi itu diduga berkaitan dengan sejumlah proyek di Kukar.

Yang terbaru adalah dugaan tindak pidana pencucian uang. Dalam kasus ini, Rita diduga melakukan pencucian uang senilai Rp 436 miliar. (haf/hri)