Maarif Institute: Guru Juga Faktor Utama Radikalisme di Sekolah

Tsarina Maharani - detikNews
Jumat, 26 Jan 2018 11:34 WIB
Foto: Tsarina Maharani/detikcom
Jakarta - Maarif Institute merilis penelitian soal perkembangan radikalisme di sekolah. Selain dari kegiatan ekstrakurikuler, radikalisme juga masuk ke siswa lewat guru.

Rilis hasil penelitian Maarif Institute berjudul 'Penguatan Kebijakan Ekstrakurikuler dalam Meredam Radikalisme di Sekolah'. Penelitian dilakukan di 6 kabupaten/kota di 5 provinsi di Indonesia, yaitu Padang (Sumbar), Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Sukabumi (Jabar), Surakarta (Jateng), Denpasar (Bali), dan Tomohon (Sulut). Pengambilan data dilakukan pada Oktober hingga Desember 2017.


Ada 40 sekolah yang menjadi sampel dengan jumlah narasumber kurang lebih 450 orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan analisis dokumen, wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan Focus Group Discussion.

Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz menyatakan selain dari kegiatan ekstrakurikuler, radikalisme juga masuk ke sekolah saat kegiatan belajar mengajar (KBM).

"Kami juga lihat radikalisme itu masuk ke sekolah lewat proses KBM. Faktor utamanya adalah karena guru," kata Darraz di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Jumat (26/1/2018).

"Kami coba tracking ke siswa. Apa yang diajarkan? Pernahkah mereka mengajarkan sesuatu di luar mata pelajaran? Ternyata guru-guru ini meskipun ngajar apa, tapi mereka terafiliasi dengan kelompok pengajian radikal tertentu di luar sekolah, akhirnya menyisipkan pandangan radikal saat di sekolah," sambung Darraz.


Maarif Institute mendorong agar ada kebijakan sekolah untuk melibatkan pihak moderat untuk menangkal radikalisme. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki referensi dalam membangun rasa toleransi dan kebhinekaan.

"Jadi kami mendorong adanya kebijakan yang menyuburkan rasa kebhinekaan dan demokratis di sekolah. Lalu adanya aktor-aktor moderat yang belum banyak mungkin untuk mengcounter radikalisme. Kita libatkan kelompok sipil moderat turut mengcounter radikalisme," ucapnya.

"Seharusnya siswa jadi punya referensi lain dalam bagaimana membangun kebhinekaan dan lain lain," sebut Darraz. (tor/tor)