Kekerasan SARA di Belanda
Masjid Dibakar Akibat Agitasi
Jumat, 17 Jun 2005 12:55 WIB
Den Haag - Bert Cremers dari Partij van de Arbeid (Partai Buruh) Rotterdam menilai kekerasan terhadap minoritas islam karena agitasi kolega tokoh parpol. Ketakutan dieksploitasi demi meraup suara.Menurut Cremers, ketua fraksi Partai Buruh di Rotterdam, para tokoh parpol tertentu bertanggung jawab atas aksi-aksi kekerasan terhadap minoritas islam di negerinya. Ia antara lain menunjuk Marco Pastors dari partai Leefbaar Rotterdam."Mereka telah menciptakan iklim ketakutan antara lain dengan berbagai pernyataan tentang islam. Harus segera diakhiri haatzaaierij (penyebaran kebencian) dan kampanye kebencian terhadap islam ini," kata Cremers, menyusul meletusnya aksi pembakaran masjid di Rotterdam.Tokoh yang ditunjuk hidung oleh Cremers, yakni Marco Pastors, dikenal sebagai murid Pim Fortuyn. Selain dinilai melancarkan kebencian dan agitasi terhadap minoritas muslim, Pastors juga menentang keras pembangunan rumah ibadah umat islam antara lain berusaha menggagalkan pembangunan masjid As-Salaam Rotterdam. Namun upaya ini gagal, karena izinnya telah keluar. Walikota Ivo Opstelten berargumen jika izin itu dicabut, maka Belanda akan menyerupai republik pisang. Opstelten sendiri pada peristiwa pembakaran rumah ibadah warganya itu mendatangi lokasi kejadian untuk melihat langsung dan menyampaikan dukungan moral kepada para pengurusnya. Ia mengaku terpukul dengan peristiwa itu.Pastors pernah terang-terangan mengaku kepada koran Trouw (29/11/2004) bahwa dirinya tidak ingin terusik oleh agama lain. "Want de islam groeit in Nederland, sebab Islam tumbuh berkembang di Belanda," kata politisi muda (39) itu. Rotterdam, kota tempat tinggal dan wilayah kerja Pastors, termasuk wilayah di mana pertumbuhan islam cukup pesat, meskipun kampanye negatif tentang agama ini marak. Koran Algemeen Dagblad edisi 28/10/2003, yang dikutip detikcom, pernah menurunkan laporan satu halaman mengenai perkembangan islam di Rotterdam di kalangan intelektual pribumi Belanda. Judul laporannya sejelas kaca, Steeds Meer Nederlanders Bekeren Zich tot Islam (Makin Banyak Orang Belanda Masuk Islam). Laporan itu menyebutkan ratusan warganegara Belanda masuk Islam setiap tahun. Salah satu dari mereka adalah Marianne Vorthoren (25), ketika itu mahasiswi manajemen di Universitas Erasmus Rotterdam. Vorthoren masuk Islam secara sadar setelah cukup lama mempelajari dan mendalami Alquran. Kini, Marianne mengenakan jilbab, sehingga cuma wajah dan tangannya saja yang nampak.C. Weber dari Nederlandse Moslimvrouwen Al-Nisa (Muslimat Belanda Al-Nisa) mengakui, belakangan ini banyak perempuan Belanda yang secara sadar memilih Islam sebagai payung hidupnya. Weber menambahkan, Islam ternyata merupakan agama yang lengkap dan konkret, di mana nilai-nilai etis seperti keadilan, cinta damai, dan kepedulian sosial diterangkan dengan jelas.Keterangan Foto: Masjid Mevlana Rotterdam, salah satu masjid korban pembakaran. Foto inzet adalah salah satu sudut interior Mevlana (dok es).
(es/)











































