900 Desa di Indonesia Langka Air
Jumat, 17 Jun 2005 12:15 WIB
Wonogiri - Sedikitnya 900 desa di Indonesia hingga saat ini masih mengalami kelangkaan air. Selain karena masalah ekonomi, kondisi geografis juga menjadi penyebab timbulnya masalah ini.Hal ini diungkapkan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam peresmian Penggunaan Sarana Air Bersih di Indonesia dalam Rangka Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan di Lapangan Giri Kridabhakti, Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (17/6/2005).Hadir dalam peresmian tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan istri, serta Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto.Untuk membantu kondisi masyarakat di 900 desa ini, pemerintah akan mengupayakan bantuan. Antara lain dengan membuat galian sumur dalam dan menaikkan air sungai bawah tanah. Pada tahun 2005 ini, pemerintah pusat telah membuat dua sarana ini di 29 lokasi yang ada di 29 kabupaten di 10 provinsi. Untuk setiap proyek pemerintah harus merogoh kocek hingga Rp 325 juta. "Setiap lokasi diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air untuk 100 jiwa," kata Purnomo.Pemilihan Wonogiri sebagai tempat peresmian penggunaan sara air bersih ini, menurut Presiden SBY, tidak lain karena kabupaten ini termasuk salah satu wilayah yang menghadapi kesulitan air bersih di saat-saat tertentu. Karena itu, SBY berharap proyek ini bisa mengatasi kesulitan air yang dialami Wonogiri secara bertahap.Diakui SBY, sumber daya air di Indonesia memang sangat berlimbah, bahkan mencapai 515 miliar meter kubik/tahun. Namun, karena cekungan air tidak merata, maka di sejumlah daerah justru terjadi kelangkaan air.Karenanya, untuk daerah-daerah yang airnya berlimpah SBY berpesan agar tidak lalai dalam mengelola sumber daya air tersebut. Kelalaian justru akan menjadi sumber malapetaka. "Karena betapa pun melimpahnya jika tidak dikelola akan menjadi langka," katanya. Disampaikan SBY, saat ini banyak kondisi air yang memprihatinkan di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga tidak bisa dikonsumsi. Kalau pun dikonsumsi, air tersebut harus melewati proses penjernihan yang biayanya sangat mahal.Selain itu, kata SBY, banyaknya daerah yang curah hujannya di bawah normal dan wilayah perbukitan kapur juga menimbulkan keprihatinan tersendiri. "Meskipun curah hujannya normal, tanahnya tidak bisa menyimpan air banyak. Di daerah ini untuk mendapatkan air satu ember saja harus naik turun bukit. Saya berasal dari daerah yang mengalami nasib seperti itu, 20 tahun saya hidup di Pacitan. Kondisi alamnya hampir sama dengan Wonogiri," tutur SBY.Karena itu, lanjutnya, pemerintah, baik pusat dan daerah bertekad melaksanakan UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang mewajibkan bagi negara mengadakan air untuk rakyatnya.Terkait peresmian penggunaan sarana air bersih ini, Menteri ESDM Purnomo menyerahkan sertifikat Program Air Bersih untuk lima bupati yang mewakili 52 kabupaten se-Indonesia, yakni Bupati Padang Pariaman, Bupati Konawi (Sultra), Bupati Belu (NTT), Bupati Pacitan (Jatim), dan Bupati Wonogiri, Jateng.Di wilayah Wonogiri, menurut Gubernur Jateng Mardiyanto, solusi permanen yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan air adalah dengan membuat proyek sumur dalam di Pucanganom, Kecamatan Giri Tontro, Jateng dan menaikkan air sungai bawah tanah di Desa Banyu Towo, Kecamatan Parang Gupito dengan kapasitas 200 liter/detik.
(umi/)











































