Rahmatullah, Penderita Busung Lapar Dibawa ke RS Koja

Rahmatullah, Penderita Busung Lapar Dibawa ke RS Koja

- detikNews
Kamis, 16 Jun 2005 20:27 WIB
Jakarta - Setelah dipublikasikan media, akhirnya Dinas Kesehatan DKI Jakarta turun tangan menyelamatkan Rahmatullah. Rahmat adalah balita berusia 2,5 tahun yang kondisinya mengenaskan karena terserang penyakit busung lapar.Rahmat, anak seorang buruh panggul bongkar muat di Pasar Ikan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, dibawa ke RSUD Koja Kamis (16/6/2005) sekitar pukul 10.00 WIB. "Rahmat masih mendapat perawatan intensif di ruang anak. Informasi yang kami peroleh memang kena busung lapar," kata salah Ratna, perawat RSUD Koja saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Kamis (16/6/2005).Rahmat adalah putera Junaedi warga Jalan Pakin, belakang Pasar Ikan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Kaki dan tangannya tampak kurus sekali, kepalanya membengkak, dadanya kurus kerontang tetapi perutnya membesar seperti kembung, sementara berat badannya sampai diusia sekarang ini hanya 2,5 Kg.Junaedi sehari-hari berprofesi sebagai kuli panggul di pasar ikan. Ia memperoleh penghasilan antara Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu setiap harinya. Dengan penghasilan minim tersebut, ia harus menghidupi 7 anaknya, lima putera dan lima puteri. Sementara istrinya sudah meninggal tahun lalu.Penghasilan yang jauh dari kebutuhan ini, membuat Junaedi harus tinggal di rumah yang tidak layak huni di perkampungan yang sangat padat di belakang pasar ikan Sunda Kelapa. Rumahnya sempit dan terbuat dari triplek. Tak ada perabotan, kecuali alat masak dan tempat tidur.Rahmatullah juga belum bisa berjalan, sehingga harus selalu digendong ayah ataupun kakak-kakaknya. Ketika ditanya apakah Rahmat sudah diperiksa ke dokter, Junaedi hanya menggeleng. "Biasa mas, tak ada biaya untuk ke dokter," katanya sambil mengangkat bahu.Pada saat pembagian imunisasi polio kemarin, Rahmat sudah diikutkan untuk mendapat vaksin. Tapi mungkin karena kondisi tubuh Rahmat, tampaknya terlewatkan oleh pemberi vaksin.Saat ini, hanya dua anak Junaedi yang bersekolah. Itupun hanya di sanggar yang dikelola oleh Rohidin, aktivis LSM Pattiro. Rohidin juga yang pertama kali melihat Rahmatullah dan menceritakan kepada detikcom. Sementara anak sulungnya berhenti sekolah ketika ibunya meninggal. "Mungkin karena stres, nilainya buruk terus. Seharusnya ia kelas 6 SD sekarang," jelas junaedi. (jon/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads