Sandiaga Rapat Bareng Noriyu soal Kesehatan Jiwa, Ini Hasilnya

Sandiaga Rapat Bareng Noriyu soal Kesehatan Jiwa, Ini Hasilnya

Indra Komara - detikNews
Selasa, 23 Jan 2018 16:31 WIB
Sandiaga Rapat Bareng Noriyu soal Kesehatan Jiwa, Ini Hasilnya
Foto: Wagub DKI Jakarta rapat bareng Noriyu. (Fida-detikcom)
Jakarta - Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno rapat bersama dokter kejiwaan Nova Riyanti Yusuf (Noriyu) soal kesehatan jiwa. Pemprov DKI membentuk Jakarta Institute for Mental Health untuk mengatasi masalah gangguan jiwa.

"Saya bersama Pak Kepala dinas dan Pak Tobing Direktur Utama dari RSKD Duren Sawit. Kita rapat di luar. Karena kita ingin efisien, waktu yang tidak terbuang. Akhirnya diambil keputusan. Akan ada inisiasi Jakarta Institute for Mental Health," kata Sandiga di Halaman Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Sandiaga menyampaikan hal tersebut usai terjadi gempa di Jakarta. Dia memutuskan melakukan rapat kerja di halaman untuk mempersingkat waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam pemaparannya, Sandiaga mendapat laporan bahwa 20 persen warga di Jakarta mengalami gangguan jiwa. Program Jakarta Institute for Mental Health ini nanti akan ditempatkan di RSKD Duren Sawit khusus untuk menangani masalah kejiwaan.

"Nah Dokter Noriyu bersama Pak Kadis akan satu bulan ini intens untuk mengulurkan programnya yang mudah-mudahan bisa launching akhir Februari," jelas Sandi.

Sandiaga Rapat Bareng Noriyu soal Kesehatan Jiwa, Ini HasilnyaFoto: Wagub DKI Jakarta rapat bareng Noriyu. (Fida-detikcom)

Program ini akan mengarah sebagai pusat kajian dan formulasi kebijakan. Dia melihat warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa karena depresi akibat tekanan hidup di Ibu Kota.

"Jadi rata-rata karena tentunya beban daripada hidup di Jakarta ini terhadap depresi, juga terhadap tekanan ekonomi, sosial, pendidikan. Ini yang mengakibatkan banyak sekali keluhan sekarang yang ada di masyarakat. Ini yang kita pantau," jelas Sandi.

Sementara itu, dokter kejiwaan Nova Riyanti Yusuf (Noriyu) mengatakan program ini sangat diperlukan untuk di Jakarta bahkan Indonesia. Sebab, dia melihat banyak kejadian bunuh diri.

"Kalau sudah bunuh diri artinya kan biasanya 90 persen berangkat dari depresi, begitu. Tapi artinya kan depresinya tidak tertangani begitu," paparnya.

"Makanya dengan pusat kesehatan jiwa Jakarta ini dibangun, ini bisa dilakukan sebagai pusat penelitian, pengembangan pelayanan kemudian juga teknologinya bisa berkembang," lanjut Noriyu. (idh/idh)


Berita Terkait