DetikNews
Sabtu 20 Januari 2018, 12:37 WIB

Bantah Ada Mahar, Kubu OSO Tantang Hanura 'Ambhara' Lapor Polisi-KPK

Elza Astari Retaduari - detikNews
Bantah Ada Mahar, Kubu OSO Tantang Hanura Ambhara Lapor Polisi-KPK Ketua DPP Hanura Benny Rhamdani (Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)
FOKUS BERITA: Hanura Islah
Jakarta - Hanura 'Ambhara' menuding kubu Oesman Sapta Odang (OSO) meminta mahar untuk setiap calon yang hendak mendapat rekomendasi di pilkada. Kubu OSO atau yang dikenal dengan Hanura 'Manhattan' membantah hal tersebut.

Wasekjen Wilayah Papua-Papua Barat Hanura yang berada di kubu 'Ambhara', Yan Mandenas menyebut kubu OSO meminta mahar saat dirinya hendak maju sebagai calon Bupati Biak Numfor. Nama Ketua DPP Hanura Benny Ramdhani yang tergabung dalam kubu OSO turut disebut-sebut.

"Pernyataan Yan Mandenas, Benny Ramdhani telepon atas nama DPP, kemudian harus ditransfer DP, itu kebohongan 1.000 persen. Jangan dia mengeksploitasi tulisan bohong, hoax, atau hanya mempercayai WA dan telepon atas nama orang yang mengaku nama saya," ujar Benny kepada detikcom, Sabtu (20/1/2018).

Bantah Ada Mahar, Kubu OSO Tantang Hanura 'Ambhara' Lapor Polisi-KPKFoto: Bukti percakapan yang ditunjukkan Wasekjen Wilayah Papua-Papua Barat Hanura Yan Mandenas. (Gibran-detikcom)

Benny tidak terima dengan pernyataan Yan yang mengatakan dia meminta mahar. Saat membuat pernyataan, Yan juga menunjukkan WhatsApp soal permintaan mahar itu. Chat WhatsaApp itu disebut dari Benny.

"Yan Mandenas hanya bermodalkan seseorang yang menelepon mengatasnamakan saya, hanya bermodalkan WA orang yang mengaku dari saya, itu dijadikan dasar dia ngomong ke publik, ada mahar politik, konsekuensinya saya merasa dicemarkan nama baik atau dirugikan," kata Benny.

Dia pun menyayangkan mengapa Yan tidak mengkonfirmasi langsung kepadanya. Dirinya memastikan tidak pernah mengirimkan pesan soal permintaan mahar kepada Yan. Benny mengatakan tidak pernah menghubungi Yan terkait permasalahan tersebut.

"Nomor Yan Mandenas itu ada di saya, nomor saya ada di Yan Mandenas, karena dulu sebelum ada masalah rame-rame Hanura ini, dia sering berkomunikasi dengan saya kok. Dia tidak pernah konfirmasi apapun ke saya. Saya tidak pernah merasa (menghubungi Yan)," tuturnya.

Benny lalu menantang Yan untuk membuat laporan ke Mabes Polri soal chat di aplikasi WA itu. Merasa tidak pernah mengirimkan chat kepada Yan terkait mahar pilkada, dia tidak takut dan bahkan mengajak Yan untuk lapor bersama-sama ke polisi dengan membawa bukti percakapan WA dan bukti-bukti lainnya.

"Saya tantang dia untuk melaporkan saya ke polisi. Kalau dia ada rekaman suara lebih bagus tuh. Kalau punya rekaman suara. Dia merasa diperas, diminta sesuatu, harusnya lapor polisi bahwa ada seseorang atas nama Benny Ramdhani meminta sesuatu. Institusi negara kita sudah canggih, kalau ada telepon masuk, titik koordinatnya bisa dilacak, handphone apa bisa ketahuan, pemilik handphone juga bisa diketahui. Benar nggak itu nomor saya," papar Benny.


"Saya bantu nih, saya bermurah hati, kalau perlu bersama-sama saya melaporkan itu ke Mabes Polri untuk kontek melacak tadi. Dia melaporkan bukti-bukti WA, bukti rekaman telepon, dari handphone siapa, nomor berapa, kan bisa dilacak," tambah mantan Anggota DPRD Sulut itu.

Tak hanya ke Mabes Polri, Benny pun menantang Yan untuk melapor ke KPK. Dia bahkan bersedia aliran dananya diperiksa dan yakin tak ada transaksi mencurigakan di rekening miliknya.

"Saya juga tantang Yan Mandenas tidak hanya polisi, laporkan KPK juga. Saya tantang KPK untuk cek semua rekening saya. Kan kalau malak-malak gitu kan masuknya ke rekening tuh. Periksa kekayaan, periksa rekening saya, jika ada satu sen pun yang berasal dari uang haram. Saya terganggu soalnya dengan pernyataan dia itu," sebut Benny.

Anggota DPD RI periode 2014-2019 itu pun menyatakan, nama dia memang kerap dicatut pihak-pihak tak bertanggung jawab sejak ditunjuk nenjadi Ketua DPP Hanura Bidang Organisasi oleh OSO. Benny bergabung ke Hanura setelah OSO terpilih sebagai ketua umum.

"Saya sadar persis sejak saya diberikan mandat sebagai Ketua Bidang Organisasi di DPP Hanura, ini kan posisi yang sangat penting dan strategis di partai. Sejak saya memegang jabatan itu, saya sadar persis ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan nama baik saya dengan cara, misalnya tadi, orang mengaku sebagai Benny Ramdhani menelepon meminta sesuatu," ungkap dia.

"Soal Yan Mandenas kalau ada orang yang menelepon, WA atas nama saya, itu bukan kasus penipuan pertama. Ada beberapa DPC, DPD, ini bahkan sebelum ribu-ribut Hanura, yang menelepon atas nama saya. Tapi yang lain pintar, mengkonfirmasi, akhirnya setelah dikonfirmasi bukan nomor saya, kemudian suaranya juga bukan suara saya, karena mereka merekam," tambah Benny.

Mantan politikus PDIP ini mengaku tak pernah melakukan gratifikasi, bahkan saat dia menjadi anggota dewan di daerah selama 3 periode. Benny menganggap pernyataan Yan telah menodai kredibilitasnya selama ini.

"Kalau saya memiliki mental tukang palak, suka uang dengan cara tidak halal, saya bisa dikatakan sebagai anggota DPRD Provinsi 3 periode paling miskin di Indonesia, orang Sulut tahu persis saya. Saya dengan PDIP 3 periode di DPRD. Bisa tanya di Sulut siapa Benny Ramdhani, pasti hafal," sebutnya.

"Saya kan di panggung nasional baru. Sejak gabung dengan Pak OSO, posisi saya kan penting dan strategis. Saya sadar persis sejak awal, akan ada pihak-pihak yang mencoba menghancurkan saya dengan cara tadi, bagaimana merusak nama baik, kredibilitas saya. Masak mau minta uang langsung suruh transfer ke rekening, langsung ketahuan dong," tambah Benny.

Dia menunggu Yan untuk melapor ke Mabes Polri mengenai tudingan mahar pilkada dan bersedia ikut melapor bersama. Yan juga diminta untuk menarik pernyataan tentang dia yang meminta mahar pilkada di hadapan publik bila memang terbukti pesan itu bukan dari dirinya. Bila tidak, Benny mengancam akan mempolisikan Yan dengan tuduhan pencemaran nama baik.

"Setelah itu harusnya dia kan segera mengklarifikasi nih, bahwa ternyata 'saya mendapatkan WA yang mencatut nama Benny Ramdhani', setelah dicek itu ternyata bukan, nah boleh. Kalau tidak saya yang melaporkan dia. Saya benar-benar dirugikan dengan berita itu," tegasnya.

Benny pun beranggapan pesan yang didapat Yan dilakukan pihak tertentu dengan memanfaatkan namanya. "Saya berpandangan ini telepon tipu-tipu lah. Orang telepon mencatut," sambung dia.

Selain soal ini, Hanura 'Ambhara' juga pernah menuding OSO memindahkan dana partai ke perusahaan pribadinya, OSO Securities untuk diinvestasikan. Dana sebesar Rp 200 M itu dikatakan sebagai hasil dari OSO meminta mahar pilkada kepada para calon kepala daerah.

"Nggak ada itu. Jangan menuduh-nuduh nggak bener itu. Hati-hati," tukas Sekjen Hanura 'Manhattan', Herry Lontung Siregar di Hotel Manhattan, Jakarta, Jumat (19/1) malam.

Sebelumnya, Yan Mandenas mengatakan OSO mematok harga untuk calon bila hendak diusung oleh Hanura di pilkada dengan nilai bervariasi, dari ratusan juta hingga miliaran rupiah. Yan termasuk yang dimintai mahar padahal merupakan kader Hanura sendiri. Akhirnya, dia batal mencalonkan diri di Pilbup Biak Numfor.

"Mahar ini disampaikan dalam rapat resmi bahwa kader maupun nonkader tetap membayar mahar kepada partai," ungkap Yan di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (18/1).

Sebagai kader, dia tak terima dimintai mahar pilkada. Yan sempat menyampailam argumentasi di grup WhatsApp Hanura dan meminta kebijakan itu dipertimbangkan kembali. Dia juga mengaku telah menemui OSO terkait syarat mahar tersebut. Ketika Yan datang, OSO disebutnya menyuruh Benny Ramdhani untuk mengurus.

"Tapi tetap saya ketemu bendahara untuk ambil surat keputusan pencalonan saya di Biak. Itu saya diminta mahar, 1 kursi Rp 350 juta, saya harus bayar jadi dua kursi Rp 700 juta saya harus bayar," bebernya.

Yan menyatakan sempat menghubungi Sekjen Hanura Sarifuddin Sudding, yang kini dipecat OSO karena gabung dengan Hanura 'Ambhara', namun Sudding tak bisa menolongnya. Yan sempat menunjukkan bukti percakapan WA soal mahar pilkada dengan oknum yang disebutnya sebagai Benny Mardhani.

Dalam pesan yang ditunjukkannya, terlihat Yan mengadukan Bendahara Beni Prananto kepada Benny Ramdhani karena tetap meminta mahar. Benny dalam pesan itu juga tetap meminta mahar. dalam pesan itu juga tetap meminta mahar.
(elz/dkp)
FOKUS BERITA: Hanura Islah
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed