Lokasi Rawan, Bayi Gajah Liar akan Digeser ke Hutan Riau

Lokasi Rawan, Bayi Gajah Liar akan Digeser ke Hutan Riau

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 18 Jan 2018 13:57 WIB
Lokasi Rawan, Bayi Gajah Liar akan Digeser ke Hutan Riau
Foto: Dokumen Rimba Satwa Foundation
Pekanbaru - Lokasi gajah liar yang melahirkan di Desa Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, sangat rawan konflik dengan manusia. Karenanya para aktivis lingkungan akan berusaha menggeser kawanan gajah ke dalam kawasan hutan yang tersisa.

"Kita bersama kawan-kawan dari Yayasan Belantara akan mencoba untuk menggeser kelompok gajah liar yang baru melahirkan untuk masuk ke dalam kawasan hutan," kata Koordinator Rimba Satwa Foundation (RSF), Zulhusni kepada detikcom, Kamis (18/1/2018).

Husni menyebutkan, kawanan gajah liar yang melahirkan ini sebenarnya berasal dari hutan suaka margasatwa Balai Raja. Tapi kondisi SM Balai Raja sendiri kritis karena kawasannya sudah disulap menjadi desa dan perkebunan sawit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan letak kawanan gajah yang melahirkan itu bersebelahan dengan perkebunan milik masyarakat setempat. Kondisi itu menyebabkan rawan konflik dengan manusia.

"Kita akan mencoba kelompok gajah liar ini terdiri dari empat ekor termasuk bayi gajah agar mereka masuk ke kawasan hutan Talang yang masih tersisa di SM Balai Raja," kata Husni.

Jaraknya dari lokasi tempat lahiran gajah ini, lanjut Husni, sekitar 3 km. Penggiringan ini diperlukan agar kawanan gajah ini bisa selamat dari ancaman konflik dengan manusia.

"Untuk menggeser memasuki kawasan hutan yang lebih luas lagi, tentunya membutuhkan waktu dan kesabaran. Karena tentunya gajah akan berjalan lambat mengingat ada bayi gajah," kata Husni.

Karena lokasi saat ini rawan koflik, pihaknya bersama Yayasan Belantara akan tetap memantau dan mengawasi bayi gajah bersama kelompoknya dari ancaman warga.

"Kalau tidak kita geser memasuki kawasan hutan Tualang yang masih hamparan SM Balai Raja, maka keselamatan bayi gajah ini akan terancam," kata Husni.

Apa lagi, kata Husni, masyarakat yang memiliki perkebunan di lokasi tempat gajah melahirkan itu sudah menunjukan sikap keberatan. Ini karena gajah dewasa yang ada di lokasi itu sudah sering masuk perkebunan masyarakat. Padahal dulunya perkebunan itu adalah bagian wilayah jelajah gajah yang sudah beralih fungsi.

"Kami khawatir bila dibiarkan di lokasi itu akan terjadi konflik dengan manusia. Inilah yang menjadi pemikiran kami agar gajah-gajah itu harus segera direlokasi jauh dari perkebunan penduduk," kata Husni.

Sebagimana diketahui, seekor bayi gajah lahir dari induknya kelompok gajah liar. Diperkirakan usia gajah mungil itu baru sepekan dilahirkna. Pihak aktivis lingkungan saat ini berusaha keras menjaga kelompok gajah ini dari serangan warga yang tak bertanggung jawab. (cha/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads