Hendro: Saya Tidak Menaruh Perhatian pada Kematian Munir
Rabu, 15 Jun 2005 19:47 WIB
Jakarta - Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono mengaku tidak menaruh perhatian pada meninggalnya aktivis HAM Munir, meski waktu itu menjadi Kepala BIN. Baginya, kematian Munir merupakan kasus kematian biasa. "Saya tidak menaruh perhatian karena yang saya dengar dan saya baca di koran-koran bahwa dia sakit. Baru sebulan kemudian saya baca di koran-koran, dia meninggal karena diracun," kata Hendropriyono dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Supomo, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (15/6/2005).Ditanya apa reaksinya ketika mendengar kematian Munir, Hendro hanya menjawab singkat. " Ya saya ikut berduka cita."Saat dikejar pertanyaan bukankah waktu itu dirinya tengah menjadi Kepala BIN, Hendro menjawab agak 'nyentrik'. "Oh iya...ya saya masih kepala BIN. Saya lupa. Tapi 2 bulan kemudian saya sudah tidak menjadi kepala BIN," ujar dia. Hendro mengaku tidak mengetahui rencana pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir, meskipun dirinya menjadi kepala lembaga telik sandi. "Anda harus tahu intelijen Indonesia. Saya tidak harus mengetahui semua tugas dan posisi setiap agen. Mereka di bawah koordinasi agent handler. Agent handler inilah yang melaporkan kepada saya. Tapi saya tidak perlu mengetahui semuanya. Karena dalam ilmu intelijen, ada istilah kompartemensi," jelasnya. Lebih jauh, Hendro menyatakan setiap agen hanya mengetahui tugasnya masing-masing. Mereka tidak boleh menanyakan tugas agen-agen yang lain. "Kalau saya misalnya mengetahui semua informasi mengenai posisi dan tugas setiap agen BIN di Indoensia, maka bisa saja, ketika saya berada di LN, dan diculik, kemudian dinterogasi, maka semua rahasia mengenai intelijen di Indoensia akan terbongkar," urai pensiunan letjen ini.
(jon/)











































