DetikNews
Kamis 18 Januari 2018, 10:18 WIB

Tambang Pasir dan Kisah Mustofa Nyaris Terusir di Tanah Kelahiran

m I - detikNews
Tambang Pasir dan Kisah Mustofa Nyaris Terusir di Tanah Kelahiran
Cilegon - Persoalan tambang pasir, selain berdampak pada kerusakan alam, juga seringkali menimbulkan dampak sosial. Seperti kisah Mustofa Hidayat (32) yang nyaris terusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Deru mesin backhoe dan suara bising truk memecah keheningan sore itu, Rabu, 16 Januari 2018. Mustofa (32) duduk di samping rumahnya dengan tatapan kosong meski setiap 5 menit sekali lalu lalang truk pasir membuat kebisingan.

Sekitar 10 meter sebelah kanan rumahnya di Kampung Kracak, Mancak, Serang terdapat jurang yang kedalamannya mencapai 30 meter. Jurang itu tak lain bekas galian tambang pasir.

Geliat galian pasir mulai terjadi sejak dibangunnya Jalur Lingkar Selatan (JLS), Cilegon pada 2010. Di kanan kiri jalan itu perlahan para pengusaha menambang pasir meski mereka tak memiliki tanah.

Di Kampung Kracak, galian pasir mulai bergeliat pada 2012 dan mulai ramai sejak 3 tahun belakangan. Tanah milik warga dikeruk dengan sistem sewa dan kesepakatan bahwa pasir di lokasi itu akan diambil. Ada warga yang menyepakati dengan bantuan lobi-lobi kepala desa, ada pula yang tidak.

Mustofa Hidayat adalah salah seorang pemilik tanah yang tidak ingin tanahnya diserahkan kepada pengusaha tambang. Tanah warga lainnya yang berada di samping kanan-kiri milik Mustofa disepakati untuk digali.
Tambang Pasir dan Kisah Mustofa Nyaris Terusir di Tanah Kelahiran

Seiring berjalannya waktu, backhoe mulai mengeruk tanah dan truk besar mulai mengangkut pasir, hanya tanah Mustofa seluas 5.000 meter tampak ditumbuhi pepohonan. Lainnya, lubang-lubang bekas tambang pasir menganga hingga 5 meter, sebelum akhirnya Mustofa ikut menyerahkan tanahnya untuk digali.

"Ya mau gimana lagi, niat nggak ngejual tapi tanah di kanan kiri punya saya itu kan sudah digali, mau ke sana lewatnya dari mana? mau nggak mau akhirnya tanah saya juga dijual," tuturnya.

Dengan kesepakatan antara tuan tanah dan pengusaha, perlahan tanah warga yang awalnya bukit justru berlubang akibat tambang. Warga di Kracak hanya mampu memandangi tanahnya yang dulu selalu ditanami sayur kini berbentuk tanah cadas yang tak lagi subur.

Dari tahun ke tahun, galian pasir perlahan mendekati permukiman warga. Mustofa bahkan berniat menjual rumah miliknya untuk ikut ditambang lantaran tak tahan dengan kebisingan dan debu yang seringkali mengakibatkan keluarganya terserang batuk dan sesak nafas.

Rumah Mustofa hanya berjarak 2 meter dari jalan tempat lalu lalang kendaraan pengangkut pasir. Kadang ia tak bisa tidur karena aktivitas pengerukan berlangsung 24 jam.

"Lagi pertama ada tambang pasir anak saya itu sakit-sakitanan saja karena kena debu, sesak nafas juga, kadang saya minta berobat ke yang punya pasir, dikasih kadang Rp 50 ribu waktu saya belum kerja di situ," ungkapnya.

Sesuai kesepakatan antara warga dan kepala desa serta pengusaha tambang, biaya kompensasi disepakati sebesar Rp 200 ribu/bulan. Biaya itu tak cukup jika yang sakit akibat tambang pasir harus dirawat di rumah sakit.

"Kalau dibilang ya nggak mencukupi, dulu pengajuannya nggak segitu, tapi yang punya (tambang) nyanggupin Rp 200 ribu, padahal ngajuin Rp 500 ribu," ujar Mustofa.

Kini, tanah-tanah di kampung itu tak lagi subur. Jika aktivitas pengerukan, maka tanah di sana tak bisa diapa-apakan selain berujung menjadi lahan tidur.

Perlahan tapi pasti kebisingan deru mesin mengganti merdunya suara jangkrik yang dulu menjadi pengiring tidur. Segarnya udara perbukitan kini tergantikan dengan hadirnya debu tambang pasir.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed