Ditemukan Anak Busung Lapar di DKI Jakarta
Rabu, 15 Jun 2005 11:29 WIB
Jakarta - Hari gini masih ada busung lapar di Jakarta...! Tentu banyak yang tidak percaya.Jakarta yang serba gemerlap, semua serba ada dan tersedia, ternyata masih ada warganya yang menderita kurang gizi atau pun busung lapar. Tapi kondisi itulah yang terjadi pada balita bernama Rahmatullah, 2,5 tahun, putera Junaedi warga Jalan Pakin, belakang pasar ikan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Ia diduga terkena busung lapar. Kaki dan tangannya tampak kurus sekali, kepalanya membengkak, dadanya kurus kerontang tetapi perutnya membesar seperti kembung."Saya sudah berusaha memberikan makanan. Tapi jujur saya kerepotan memberikan gizi yang cukup untuk dia," tutur ayah Rahmatullah, Junaedi, 55 tahun kepada detikcom yang menemui di rumahnya, belakang pasar ikan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Rabu (15/6/2005).Junaedi sehari-hari berprofesi sebagai kuli panggul di pasar ikan. Ia memperoleh penghasilan antara Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu setiap harinya. Dengan penghasilan minim tersebut, ia harus menghidupi 7 anaknya, 5 putera dan 2 puteri. Sementara istrinya sudah meninggal tahun lalu.Penghasilan yang jauh dari kebutuhan ini, membuat Junaedi harus tinggal di rumah yang tidak layak huni di perkampungan yang sangat padat di belakang pasar ikan Sunda Kelapa. Rumahnya sempit dan terbuat dari triplek. Tak ada perabotan, kecuali alat masak dan tempat tidur.Sementara kondisi Rahmattullah sampai sekarang belum bisa berbicara. "Paling ia bisa panggilpapa-papa," ujar Junaedi. Rahmatullah juga belum bisa berjalan, sehingga harus selalu digendong ayah ataupun kakak-kakaknya. Ketika ditanya apakah Rahmat sudah diperiksa ke dokter, Junaedi hanya menggeleng. "Biasa mas, tak ada biaya untuk ke dokter," katanya sambil mengangkat bahu.Pada saat pembagian imunisasi polio kemarin, Rahmat sudah diikutkan untuk mendapat vaksin. Tapi mungkin karena kondisi tubuh Rahmat, tampaknya terlewatkan oleh pemberi vaksin.Saat ini, hanya dua anak Junaedi yang bersekolah. Itupun hanya di sanggar yang dikelola oleh Rohidin, aktivis LSM Pattiro. Rohidin juga yang pertama kali melihat Rahmatullah dan menceritakan kepada detikcom. Sementara anak sulungnya berhenti sekolah ketika ibunya meninggal. "Mungkin karena stres, nilainya buruk terus. Seharusnya ia kelas 6 SD sekarang," jelas junaedi.
(jon/)











































