DetikNews
Senin 15 Januari 2018, 13:50 WIB

Pemprov Papua Kaget 61 Anak Asmat Meninggal karena Gizi Buruk

Wilpret Siagian - detikNews
Pemprov Papua Kaget 61 Anak Asmat Meninggal karena Gizi Buruk Foto: Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. (Google Maps)
Papua - Dinas Kesehatan Provinsi Papua kaget adanya laporan pihak gereja dari Asmat terkait kematian 61 orang anak akibat penyakit gizi buruk dan campak. Kejadian luar biasa terakhir atas kasus serupa pada 2011 lalu.

"Hingga 15 November 2017 Direktur RS Agats, Kabupaten Asmat, tidak ada melaporkan melalui WA (WhatsApp) imunisasi Papua kalau akibat penyakit gizi buruk dan campak di kabupaten Asmat. Kami mengetahui setelah adanya berita di media massa," ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Alosius Giyai di Jayapura, Senin (15/1/2018).

Dinkes provinsi memerintahkan pengambilan sampel dan sweeping kasus itu.

"Atas laporan WA itu kami sudah memberikan peringatan berhati-hati, karena wilayah pesisir selatan Papua itu sudah melewati ' honey moon'," katanya.

Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terbesar terakhir tahun 2011 dan Asmat tidak termasuk kabupaten yang melakukan crash program campak tahun 2016. Kasus campak pertama atas nama MC pada 3 Oktober 2017 dengan gejala demam dan rash. Kemudian 29 Oktober 2017 ditemukan 47 lagi kasus campak dan telah dirawat di RSUD Agats.

Terakhir pada 29 Desember 2017 Dinkes Asmat, dr Darsono melaporkan kasus sudah turun hingga 7 kasus, tetapi tiba- tiba berita media ada yang meninggal 61 orang. Tetapi data yang kami terima yang meninggal ada 59 orang sejak Januari hingga Desember 2017," katanya.

Data terakhir yang diterima dari RSUD Agats, kabupaten Asmat total kasus gizi buruk dan campak sebanyak 568 kasus yang rawat jalan sebanyak 393 kasus.

Kabupaten Asmat merupakan daerah dataran rendah pesisir pantai, rawa-rawa yang tergenang air, sehingga akses menuju daerah Diatrik-distrik hanya menggunakan speed boat (long boat) dan akses signal telepon belum ada.

"Kasus gizi buruk dan campak ini terjadi karena masyarakat belum menerapkan hidupa sehat, rumah-rumah belum ada cuci, mandi, kakus. Jadi mengatasi masalah campak dan gizi buruk ini tidak bisa hanya Dinas Kesehatan, tetapi harus pemerintah daerah dengan melibatkan instansi terkait," tambah Alosius Giyai.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed