Kasus Balita Muntah Pasca Imunisasi Polio Perlu Diseriusi

Kasus Balita Muntah Pasca Imunisasi Polio Perlu Diseriusi

- detikNews
Selasa, 14 Jun 2005 17:51 WIB
Depok - Dugaan bahwa sejumlah balita muntah-muntah dan suhu badannya panas karena disebabkan imunisasi polio tampaknya perlu diseriusi. Kasus ini tidak hanya terjadi pada satu korban, tapi beberapa balita. Kasus balita muntah dan panas ini terjadi di RW 21 Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sukmajaya, Depok. Gara-gara kasus ini, Nabila, balita berumur 9 bulan, meninggal dunia seminggu setelah mengikuti imunisasi pada Selasa (31/5/2005) lalu. Di RW 21, imunisasi polio digelar di dua tempat, yaitu di rumah Ketua RW 21 dan di RT 02. Ketua RW 21 Ngatno saat ditemui detikcom, Selasa (14/6/2005) di rumahnya, di Kampung Sidamukti mengaku bahwa hampir seratus persen balita yang ada di wilayahnya mengikuti imunisasi gratis itu. Data yang ada, ada 406 balita yang terdata. Seusai imunisasi tersebut, Ngatno mengaku, ada sejumlah balita yang sakit. "Bahkan ada satu keluarga di Rt 05 yang tiga balitanya sakit semua," kata Ngatno. Ketiga balita yang sakit itu berumur 4 tahun, 2,5 tahun, dan 9 bulan. Yang paling parah, balita yang berumur 9 bulan, karena sampai dirawat di Puskesmas. Selain di RT 05, kata Ngatno, ada laporan bahwa ada tiga balita di RT 01 yang juga mengalami hal yang sama. Semua balita memiliki penyakit yang sama, suhu badannya meninggi, selalu muntah-muntah, dan diare. Ngatno memastikan bahwa sebelum menjalani imunisasi polio, balita-balita itu sehat. "Tidak ada yang sakit sebelumnya," kata Ngatno. Para orangtua yang anak balitanya sakit seusai imunisasi, menurut Ngatno, melaporkan kasus itu kepada dirinya pada Sabtu (4/6/2005), empat hari setelah imunisasi. Atas kejadian ini, pihaknya sudah melaporkan kepada Kelurahan. Lantas apakah Dinas Kesehatan melakukan pemantauan pasca imunisasi polio itu? Menurut Ngatno, petugas Dinas Kesehatan tidak melakukan pemantauan apa-apa. "Sebelumnya kan memang pemerintah tidak menjelaskan bagaimana bila setelah imunisasi, tiba-tiba anaknya sakit. Ini yang tidak dilakukan pemerintah," kata dia. Bisa jadi, para balita yang jatuh sakit akibat imunisasi polio itu tidak hanya enam orang, seperti disampaikan Ngatno. Sebab, menurut Ketua RT 01 RW 21, Herman, di RT-nya ada enam orang yang mengalami sakit panas, diare, dan muntah-muntah. Termasuk anaknya sendiri, Nabila, yang akhirnya meninggal dunia pada Senin (6/6/2005). "Saat ini, tinggal tiga balita yang masih lemas-lemas. Yang dua sudah sembuh, sedang anak saya meninggal dunia," kata Herman saat ditemui detikcom. Sama dengan anaknya, kelima balita itu juga sempat dibawa ke Puskesmas untuk menjalani perawatan. Herman telah melaporkan kasus kematian anaknya ini ke polisi. Dia juga mengkritisi pelaksanaan imunisasi polio gratis itu. "Saat imunisasi, yang bertindak sebagai petugas hanya tenaga sukarelawan. Tidak ada petugas Dinas Kesehatan yang memantau," keluh dia. (asy/)


Berita Terkait