DetikNews
Kamis 11 Januari 2018, 21:54 WIB

Terdakwa Kasus Suap Sempat Diingatkan Tak Beri Auditor BPK Moge

Nur Indah Fatmawati - detikNews
Terdakwa Kasus Suap Sempat Diingatkan Tak Beri Auditor BPK Moge Tangkapan layar transkrip sadapan yang ditunjukkan jaksa KPK (Foto: Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta - Head of Internal PT Jasa Marga Laviana Sri Hartini mengakui sempat melarang mantan GM PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Setia Budi memberikan motor gede untuk Auditor BPK Sigit Yugoharto. Hal ini terungkap dari rekaman percakapan telepon antara keduanya.

Mulanya Laviana memang mengaku pernah mengetahui wacana soal permintaan motor itu dari Setia Budi. Budi, bahkan menyebut telah mengeluarkan duit dengan jumlah besar untuk auditor BPK itu.

"Waktu itu Pak Setia Budi menginfokan ke saya bahwa Pak Sigit (Yugoharto) minta dilihatkan motor. Kemudian secara normatif saya bilang bilang saja oke, tapi jangan diberikan atau dilakukan transaksi atas nama kita," ungkap Laviana dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

"Menasihati?" tanya jaksa kemudian.

"Ya agar jangan diberikan," balas Laviana.

Namun, sepengetahuannya, dalam percakapan itu memang belum ada realisasi pemberian motor. Jaksa kemudian memutarkan rekaman percakapan telepon keduanya beserta dengan transkrip di muka sidang. Berikut isinya, Laviana diwakili angka 3538, sementara Setia Budi diwakili angka 2931:

Budi: Hm, berarti bener. Enggak dia tuh minta dibeliin motor
Laviana: Hah?
Budi: Yang gua cerita itu loh
Laviana: Hah?
Budi: Gua kan pernah cerita kan? Dibeliin motor Harley
Laviana: Yang di itu? Yang di Blora?
Budi: Di Blora, udah batal. Ada nih dia yang lebih ngeri, di Bandung. Yah kalo gua sih budget.
Laviana: Hiy...
Budi: Budget-in Satu Lima Pu
Laviana: Kay kayanya jangan deh Bud
Budi: Hah?
Laviana: Jangan deh, bahaya ah
Budi: Jangan gimana maksudnya? Lah dia udah datang kemari
Laviana: Hah?
Budi: Dia udah datang kemari. Yah gua sih slow-slow nyarinya gituloh
Laviana: Udeh.. ini aja kalo menurut gue jangan ini dulu deh jangan, maksudnya jangan diikutin lah. Soalnya bahaya yah kalo kaya gitu. Gue sih demi keamanan lo juga deh
...
Budi: Gue ini kan temuan Tiga Belas Milyar coba
Laviana: Hm mh hm mh
Budi: Sekarang di.. sisa Delapan Ratus gimana caranya coba? Kan pusing gitu loh!
Laviana: Nah iya makanya
Budi: Iya, effort-nya itu gede loh!
Laviana: Justru itu makanya
Budi: He eh
Laviana: Kan ma... justru itu kan gua bilang ini apa.. di satu sisi kan selalu direksi bilangnya enggak boleh materil-enggak boleh materil
Budi: Ha ah
Laviana: Ya gimana ceritanya kalau materil tidak dihilangkan dengan materil? Ha ha ha
Budi: Ha ah

Dari hasil percakapan tersebut hakim kemudian mengonfirmasi Laviana kaitan antara temuan BPK dengan pemberian Harley-Davidson Sportster 883 dengan estimasi nilai Rp 115 juta. Laviana pun membenarkan.

"Tadi bicara motor lalu hasil audit. Apa nih hubungannya?" tanya hakim.

"Memang kan waktu di pembicaraan itu temuan itu sudah jadi Rp 800 juta makanya begitu ada permintaan motor saya cegah. Motor ini lebih baik nggak usah diberikan," kata Laviana.

"Ada hubungannya nggak dari Rp 12 miliar jadi Rp 800 juta?" ucap hakim.

"Ada," kata Laviana membenarkan.

Terdakwa Kasus Suap Sempat Diingatkan Tak Beri Auditor BPK MogeTangkapan layar transkrip sadapan yang ditunjukkan jaksa KPK (Foto: Nur Indah Fatmawati/detikcom)

Terdakwa Kasus Suap Sempat Diingatkan Tak Beri Auditor BPK MogeTangkapan layar transkrip sadapan yang ditunjukkan jaksa KPK (Foto: Nur Indah Fatmawati/detikcom)


Terdakwa Kasus Suap Sempat Diingatkan Tak Beri Auditor BPK MogeTangkapan layar transkrip sadapan yang ditunjukkan jaksa KPK (Foto: Nur Indah Fatmawati/detikcom)

(nif/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed