Dinilai Bawa Sial
SBY Diruwat 17 Juni di Solo
Senin, 13 Jun 2005 15:30 WIB
Solo - Banyak cara membuat penafsiran, tergantung dari perspektifnya. Seorang seniman yang juga politisi di Solo menilai Presiden SBY dominan memiliki unsur negatif dalam dirinya karena bawaan sifat wuku kelahirannya. Atas dasar ini Jumat mendatang (17/6/2005) dia akan meruwat Sang Presiden di Masjid Agung Surakarta. Dia yakin SBY akan datang.Pemrakarsa acara itu adalah Bambang Saptono, perupa yang saat ini juga juga menjabat Ketua Departemen Seni dan Budaya DPP PAN. Selain melukis dan aktif dalam berbagai acara kepartaiaan, Bambang juga memiliki sekaligus memimpin sebuah sanggar bernama Pawukon Bambang Saptono.Wuku atau pawukon adalah sebuah perhitungan atau horoskop kuno yang hingga kini masih diyakini dan digunakan sebagian masyarakat di Jawa dan Bali. Umur wuku hanya satu pekan, sehingga pada tiap hari Minggu akan berganti. Jumlah wuku ada 30. Tabiat, perilaku dan bahkan nasib seseorang dapat dibaca dari wuku-nya itu.Menurut Bambang, Yudhoyono yang dilahirkan di Pacitan Jumat Kliwon 9 September 1949 itu berada dalam wuku Bala. Wuku memiliki banyak unsur jelek dan kesialan. Unsur jelek dan kesialan Sang Presiden itu diyakininya mempengaruhi alam dan nasib seluruh bangsa mengingat Yudhoyono saat ini adalah nahkoda di Indonesia.Wuku Bala, kata Bambang, berlambang Dewi Durga yang digambarkan senang berbuat huru-hara, menakutkan bagi yang mendengar, berwatak dengki, senang membantu kejahatan, tidak ada yang ditakuti dan tidak memiliki kesejukan. Meskipun banyak rejekinya, namun kejelekan lain dari orang yang lahir dalam wuku ini adalah suka memperlihatkan kekayaan, memberi jika diminta namun tidak setulus hati.Orang ber-wuku Bala juga digambarkan seperti pohom cemara; banyak bicara, tidak dapat dijadikan pelindung, panas jika memerintah namun banyak yang menurut. Penggambaran lain adalah seperti ayam hutan; dipelihara orang besar, manis kata-katanya, banyak yang senang melihatnya, dipercaya pengabdiannya namun tinggi hati."Perumpaannya ibarat hujan yang jatuh salah musim; serba salah dalam mencari makan, sering mendapat rezeki namun tidak bisa berhemat," kata Bambang. Inti pembacaan terhadap orang berwuku Bala, lanjut Bambang, adalah berwatak angkara murka, suka menimbulkan huru-hara di mana-mana, perintahnya berpengaruh dan ditakuti orang, cerdas tapi angkuh, hartanya yang banyak sering dipamerkan dan tidak memiliki sifat sosial."Pergelaran ini harus kami lakukan mengingat bahwa sejak terpilih sebagai presiden, kondisi negara dan bangsa Indonesia selalu silih berganti diterpa berbagai bencana alam hingga kelaparan yang telah merenggut ratusan ribu nyawa. Karena itulah pada hari Jumat 17 Juni mendatang bertepatan pada Jumat Kliwon wuku Bala, kami akan meruwat beliau," jelas Bambang.Acara itu akan digelar di Masjid Agung Surakarta seusai salat Jumat dan doa keselamatan. Seluruh perlengkapan ruwatan telah disediakan, di antaranya nasi tumpeng, ayam hitam mulus yang dipanggang serta sayur-mayur, dan uang receh untuk disebar. Menurut Bambang, semua itu harus disikapi sebagai sedekah, bukan sesaji untuk makhluk halus.Bambang juga yakin Yudhoyono akan hadir dan mau diruwat. Dia mengaku sudah menghubungi protokoler di istana maupun Provinsi Jateng dan telah mendapat kepastian tanggal 17 dan 18 Juni Yudhoyono berada di Solo. Pada tanggal 18 Juni memang Yudhoyono dijadwalkan mencanangkan Gerakan Gotong Royong Nasional dan Pekan Kesehatan di Karanganyar. Akankah pada 17 Juni dia hadir untuk diruwat sialnya? Kita tunggu saja!
(nrl/)











































