DetikNews
Sabtu 06 Januari 2018, 15:12 WIB

Ingatkan Pentingnya Sifat Kritis, Anies Singgung Hoax Membangun

Haris Fadhil - detikNews
Ingatkan Pentingnya Sifat Kritis, Anies Singgung Hoax Membangun Gubernur DKI Anies Baswedan di acara Reuni Akbar Himpunan Alumni Pesantren (Foto: Haris Fadhil-detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengingatkan pentingnya sifat kritis, kreatif, kerja sama, dan komunikasi dalam menghadapi perkembangan zaman. Ia menyebut pendidikan di Indonesia mulai bergerak ke pengembangan empat sifat itu.

"Pilar kompetensi 4K, yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif, kerja sama, dan komunikasi ini merupakan hal yang fundamental. Dunia pendidikan kita sudah bergerak dari dasar baca tulis hitung menjadi ke 4K tadi," kata Anies dalam sambutannya di Reuni Akbar Himpunan Alumni Pesantren Islam Al-Irsyad di Asrama Haji, Jalan Raya Pondok Gede, Jakata Timur, Sabtu (6/1/2018).


Anies menjelaskan, berpikir kritis akan membuat masyarakat terhindar dari penipuan, ekstremisme maupun berita bohong atau hoax. Ia juga sempat menyinggung soal hoax membangun yang mencuat dari ucapan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi.

"Kritis luar biasa mendasar. Apalagi di tempat yang banjir informasi. Ada hoax, ada juga hoax membangun katanya," ujar Anies yang disambut tawa peserta acara.

"Kalau kemampuan kritis, hal-hal bersifat ekstrem pasti nggak laku. Karena orang kritis akan mempertanyakan apapun yang masuk. Contoh ekstremisme, saya menawarkan investasi Rp 10 juta dalam 2 sampai 3 bulan jadi Rp 20 juta. Itu ekstremisme bisnis, nggak masuk akal bahwa dengan uang Rp 10 juta dalam 2 bulan jadi Rp 20 juta. Pasti ditanya bagaimana, kalau nggak ada kemampuan kritis, pasti cepat terbawa," sambung Anies.


Selain sifat kritis, Anies juga mendorong lahirnya orang-orang kreatif, mampu bekerja sama dan mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik. Ia juga meminta peserta reuni akbar yang hadir memperhatikan pentingnya kemampuan berwirausaha.

"Kami berharap dari sekolah, dari pesantren muncul pelaku ekonomi yang mumpuni. Karena sekarang ini kita banyak bergerak di bidang pendidikan, kemasyarakatan, politik, tapi saat masuk di wilayah ekonomi, maka di situ biasanya kalau jumlah banyak ukuran kecil. Kalau ukurannya besar, maka jumlahnya kecil," ucapnya.


(ams/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed