Tiga Pilkada Versi Gus Dur
Senin, 13 Jun 2005 03:00 WIB
Yogyakarta - Bukan Gus Dur kalau tidak suka bergurau. Soal pilkada, Ketua Dewan Syuro PKB ini punya tiga versi. Yakni, pilkada, pilkadal dan pilkadas. Pilkada itu pemilihan kepala daerah, pilkadal adalah pilihan kadal, dan pilkadas berarti pemilihan kepala daerah aliran sungai."Itu seperti di Cilacap yang banyak sungainya di mana-mana. Itu di sana ada pilkadas," kelakar Gus Dur saat memberikan sambutan pada acara acara Doa Bersama Rakyat Yogyakarta di Karangjati, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (12/6/2005) malam.Acara ini dihadiri oleh beberapa calon bupati dari Bantul dan Sleman yang akan maju dalam pilkada tanggal 26 Jnuio 2005. Gus Dur mengharapkan pilkada berlangsung aman, tertib dan lancar serta menghasilkan pemimpin daerah yang cakap."Pemilihan kepala daerah hendaknya memberikan kesinambungan bagi kepentingan rakyat sehingga kita harus mampu mewujudkan itu melalui pemilihan," kata Gus Dur didampingi Ketua DPW PKB DIY H. Agus Wiyarto.Haji Abdin dan AbasDalam sambutannya Gus Dur juga menyinggung soal zakat yang tidak jelas pengelolaannya. Sebab zakat itu harus diberikan kepada orang miskin. Namun dalam prakteknya dari zakat itu muncul 'Haji Abdin' atau haji atas biaya dinas. "Semestinya Haji Abas yaitu atas biaya sendiri," katanya.Gus Dur mengatakan kebijakan dan tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpin itu terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. "Itu adalah kewajiban utama yang tidak bisa disepelekan," ujarnya.Dicontohkan Gus Dur, kenaikan harga BBM dan harga buku pelajaran sekolah sebenarnya bukan masalah. Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan penghasilan sehingga masyarakat bisa beli BBM dan buku berapapun harganya. "Itu letak masalahnya," kata Gus Dur.Itu sebabnya tidak ada demo di Inggris walaupun harga satu liter bensin mencapai Rp 9.000. Itu karena orang Inggris kuat membeli bensin dengan harga seperti itu. Demikian pula di Jepang, harga bensin bisa mencapai Rp 11.000 per liter namun tidak ada yang ribut. "Buku dengan harga yang tinggi juga tak ada yang ribut. Namun di Indonesia justru banyak yang ribut dan minta harga murah karena memang penghasilan rakyat Indonesia yang sangat kecil dibandingkan negara lain," kata Gus Dur.Seusai memberikan sambutan Gus Dur menikmati pementasan wayang kulit semalam suntuk di tempat itu dengan lakon Kresna Duta oleh dalang Ki Timbul Hadiprayitno. Begitu asyiknya menonton wayang, Gus Dur enggan meladeni pertanyaan wartawan."Saya itu ke sini mau nonton wayang kok. sebab dulu waktu waktu saya kecil kalau mau nonton sembunyi-sembunyi dan sekarang bisa nonton dengan tenang dan enak. Mari kita nikmati saja," demikian Gus Dur.
(gtp/)











































