Jurnalis Prancis Bebas dari Penyanderaan di Irak

Jurnalis Prancis Bebas dari Penyanderaan di Irak

- detikNews
Minggu, 12 Jun 2005 18:01 WIB
Jakarta - Setelah lebih dari lima bulan dalam penyanderaan di Irak, jurnalis Prancis Florence Aubenas bebas. Keluarganya pun menyambut kabar itu dengan gembira.Selain Aubenas, asistennya yang merupakan warga Irak, juga bebas. Demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Prancis seperti dilaporkan Associated Press, Minggu (12/6/2005).Dalam pernyataan singkatnya, Kementerian Luar Negeri Prancis tidak menjelaskan secara detil mengenai kronologi pembebasan keduanya, maupun pihak mana yang diindikasikan telah menyandera mereka. Aubenas merupakan reporter veteran dari koran bersayap kiri Liberation. Perempuan berambut pendek ini sedang menuju Prancis dan diharapkan tiba di Bandara Paris pada Minggu malam waktu setempat."Kami sekeluarga diliputi rasa sangat gembira," kata adiknya dalam wawancara dengan sebuah stasiun radio Prancis.Dituturkan dia, Presiden Prancis Jacques Chirac memberi tahu keluarganya pada hari Sabtu bahwa Aubenas sudah dibebaskan. "Dia berada dalam kondisi kesehatan yang baik secara fisik maupun mental," ujarnya.Chirac dalam pidatonya yang ditayangkan televisi Prancis juga menyatakan hal serupa. "Aubenas dan asistennya dalam kondisi kesehatan yang bagus. Aubenas sedang berada dalam pesawat menuju Prancis," katanya. Asisten Aubenas bernama Hussein Hanoun al-Saadi kembali berkumpul bersama keluarganya di Irak. Keduanya hilang sejak 5 Januari 2005 setelah terakhir kali terlihat sedang meninggalkan hotel yang ditempati Aubenas di Baghdad.Aubenas kemudian muncul dalam rekaman kaset video yang dibuat para penyanderanya pada 1 Maret 2005. Dalam rekaman itu, Aubenas yang tampak pucat memohon dibebaskan.Minggu lalu, editor Aubenas menyatakan otoritas Prancis secara lambat laun telah membuat kemajuan. Proses pembebasan terhadap Aubenas dan asistennya dilakukan secara seksama dan sungguh-sungguh.Sersan July yang merupakan pendiri dan direktur Liberation menyatakan otoritas Prancis telah melakukan kontak dengan para penyandera melalui perantara."Ini merupakan akhir dari mimpi buruk. Keduanya kini sudah bebas, benar-benar fantastik," ujar Direktur Editorial Liberation Antoine de Gaudemar. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads