Difabel Keluhkan Fasilitas Kereta Bandara yang Dijajal Jokowi

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 02 Jan 2018 12:31 WIB
Difabel jajal kereta bandara (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang dijajal Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini juga sekalian dijajal oleh kaum penyandang disabilitas. Ada yang berkursi roda, ibu-ibu tunanetra, hingga tunarungu.

Mereka menjajal Kereta Bandara dari 'Integrated Building' Soekarno-Hatta Tangerang Banten menuju Stasiun Sudirman Baru Jakarta, Selasa (2/1/2018). Ariani Soekanwo (72), Ketua Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional, dituntun oleh seorang perempuan, didudukkan di kursi kereta baru ini. Dia duduk di kursi umum.

"Ini di mana kursi disabilitas-nya?" ucapnya.

Ariani Soekanwo / Ariani Soekanwo / Foto: Danu Damarjati/detikcom


Ternyata sebelum duduk di sini, dia sudah berusaha mencari barisan kursi penyandang disabilitas. Namun karena kesulitan plus pengamanan untuk Presiden sudah diberlakukan, maka dia memilih duduk di kursi umum ini saja.

"Seharusnya ada layanan disabilitas. Nggak seperti ini, kita harus mencari. Perlu ada staf yang melayani kita," kata Ariani.

Dia tak ingin kaum difabel menjadi kesulitan mengakses transportasi umum. Soalnya dia pernah mengalami hal tidak mengenakkan saat mengakses transportasi umum, yakni pesawat.

"Di Balikpapan tiga bulan lalu, saya juga disuruh tanda tangan pernyataan bahwa kalau ada apa-apa yang menimpa diri saya, maka pihak maskapai tidak bertanggung jawab," tuturnya menceritakan sikap diskriminatif yang dia pernah alami.

"Kemudian saya bilang ke petugasnya, saya tanda tangan tapi saya coret dulu pernyataannya. Kenapa kita harus tanda tangan itu?" lanjut Ariani.

Kembali ke soal Kereta Bandara yang baru ini, dia ingin menyampaikan ke Jokowi agar fasilitas akses untuk kaum difabel bisa disempurnakan. Untuk hari ini, dia sedikit memaklumi pelayanan untuk kaum difabel kurang baik. Barangkali karena panitianya agak bingung.

Ada pula Surya Sahetapy, penyandang dan aktivis kaum tuli yang merupakan anak Ray Sahetepy. Pindah gerbong, ternyata memang ada deretan kursi untuk kaum disabilitas.

"Harusnya ini kursi roda bisa masuk, barangkali slot kursi dikurangi satu biar bisa masuk," kata pengguna kursi roda, Retnowati (52).

Kursi untuk difabel / Kursi untuk difabel / Foto: Danu Damarjati/detikcom


Dia menjelaskan, tak semua pengguna kursi roda bisa berpindah ke kursi biasa dengan gampang. Maka harus ada celah tersendiri bagi pengguna kursi roda. Dia juga menyalurkan aspirasi rekan tunarungu. Suara pengumuman dan notifikasi dalam kereta kurang keras. Bentuk visual dari pengumuman perlu lebih jelas supaya kaum tunarungu bisa lebih terbantu.

"Audio notifikasinya kurang keras," kata dia.

Sikdam Hasim, penyandang tunanetra, menjelaskan meski penyandang disabilitas cenderung ingin mandiri namun pelayanan khusus tetaplah diperlukan. Para pegawai transportasi umum, tak terkecuali untuk kereta bandara ini, perlu ramah terhadap kaum difabel.

"Soalnya saya pernah jatuh dari kereta, kena tangan saya, hampir saja saya (tunanetra) menjadi tunadaksa," kata Sikdam mengelus-elus lengan kanannya.

Baru saja dia merasakan ketidakramahan pegawai yang dia temui sebelum masuk ke Integrated Building yang jadi stasiun kereta bandara ini. Dia perlu menegaskan tujuannya sebelum mendapat keramahan dari petugas itu.

"Ketika saya bilang bahwa saya mau ketemu Pak Jokowi, baru dia melayani. Kan aneh sekali. Nggak ikhlas," kata dia.

"Besok-besok, kereta kalau mau mempekerjakan pegawai perlu tes nurani selain psikotes," imbuhnya.



Dalam sesi wawancara, Jokowi ditanya tentang keluhan dari difabel ini. Jokowi mengaku akan membahas keluhan mereka.

"Meskipun saya lihat di sini akses untuk aksesibilitas untuk disabilitasjuga sudah ada. Tapi memang banyak keluhan-keluhan yang tadi disampaikan. Nanti akan saya rembug dengan menteri perhubungan," ucap Jokowi. (dnu/imk)