DetikNews
Jumat 29 Desember 2017, 17:05 WIB

Mengapa Dunia Memuji Malala, Tapi Abai dengan Ahed di Palestina

Erwin Dariyanto - detikNews
Mengapa Dunia Memuji Malala, Tapi Abai dengan Ahed di Palestina Ilustrasi diolah Andhika Akbariansyah
Jakarta - Shenila Khoja-Moolji, peneliti kesetaraan gender menulis kolom di Aljazeera.com. Judulnya, "Why is the West praising Malala, but ignoring Ahed (Mengapa Barat Memuji Malala, tapi Mengabaikan Ahed?".

Malala yang dia maksud adalah gadis Pakistan dengan nama lengkap Malala Yousafzai. Sejak usia 15 tahun dia aktif menyerukan perlawanan terhadap terorisme global yang mengatasnamakan agama tertentu.

Akibat sikap keras dan keberaniannya itu, Malala kerap mendapatkan ancaman pembunuhan. Pada 2013, ketika usianya baru mengancik 15 tahun dia ditembak oleh kelompok Taliban. Saat itu dia hendak berangkat ke sekolah.

Peluru mengenai bagian kepala Malala yang membuat dia nyaris kehilangan nyawa. Dia selamat setelah dibawa ke Inggris untuk menjalani perawatan. Sejak peristiwa itu, Malala tinggal di Birmingham.

Dunia bersimpati atas peristiwa yang dialami Malala. Mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown membuat petisi dengan judul, "I am Malala".

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), badan khusus PBB yang mengurusi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan meluncurkan gerakan, "Stand Up for Malala". Sekretaris Jenderal PBB ketika itu Ban Ki Moon dan Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Obama mengundang secara khusus Malala.

Malala juga diberikan kesempatan untuk berpidato di sidang Majelis Umum PBB. Majalah Time menobatkan Malala sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Tahun 2014, Malala mendapatkan hadiah nobel perdamaian. Agustus tahun ini, Malala Yousafzai, diterima di Universitas Oxford, Inggris. Dia akan kuliah jurusan filsafat, politik dan ekonomi. Malala mendapat penghargaan yang luar biasa dari dunia.

Adapun nama kedua yang dimaksud Shenila Khoja-Moolji adalah Ahed Tamimi, gadis Palestina berusia 16 tahun yang lantang menentang pendudukan tentara Israel di Tepi Barat. Ahed yang berambut pirang itu sudah sejak berusia 11 tahun keras melawan Israel.

Musabab aksinya tersebut, gadis belia itupun terpaksa harus keluar masuk penjara tentara Israel. Terakhir pada Selasa dini hari, 19 Desember dua pekan lalu, Ahed dijemput paksa oleh tentara Israel dan hingga kini masih ditahan.


Ahed Tamimi kini menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina. Di media sosial muncul hastag #IamAhed or #StandUpForAhed. Namun nasib Ahed belum semujur Malala. Tak ada media massa yang mengangkat #IamAhed or #StandUpForAhed sebagai headlines mereka.

Pemimpin dan tokoh politik dunia hingga kini juga belum menunjukkan apresiasi dan penghargaan untuk Ahed. Bahkan Amerika Serikat yang dulu mengundang Malala, justru menolak memberikan visa untuk Ahed bicara di PBB.

Shenila Khoja-Moolji menduga ada beberapa sebab, pemimpin dunia khususnya dari Barat tak memberikan perhatian lebih kepada Ahed Tamimi. Pertama, negara-negara barat menganggap tindakan Israel kepada warga Palestina itu sebagai tindakan sah.

Adapun tindakan Taliban di Pakistan dan Boko Haram di Negeria mereka nilai aksi yang harus dilawan. Namun agresi serupa oleh negara seperti di Tepi Barat dianggap sah.

"Di antara mereka (dunia barat) ada penerimaan secara meluas atas kekerasan yang disetujui oleh negara sebagai hal yang sah. Tindakan bermusuhan aktor non-negara seperti pejuang Taliban atau Boko Haram dipandang tidak sah, agresi serupa oleh negara sering dianggap tepat," tulis Shenila Khoja-Moolji dalam kolomnya di Aljazeera seperti dikutip detikcom, Jumat (29/12/2017).

Wal hasil, dunia barat hingga saat ini belum beraksi atas sikap tentara Israel yang menangkap dan menahan Ahed Tamimi. Pada Selasa (26/12/2017) lalu, masa penahanan Ahed diperpanjang. Dilansir AFP, keputusan perpanjangan penahanan itu diambil pengadilan militer Ofer atas kasus dugaan serangan terhadap aparat di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Ahed Tamimi yang ditahan karena menampar tentara Israel akan segera diadili di pengadilan militer. Dan pemimpin serta tokoh politik dunia pun hingga kini terus diam.


(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed