YLKI: Kenaikan Harga BBM Penyebab Maraknya Busung Lapar
Jumat, 10 Jun 2005 14:42 WIB
Jakarta - Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dituding ikut menyebabkan maraknya kasus busung lapar. Sebab kebijakan itu tanpa diikuti pelayanan kompensasi BBM yang baik. Buntutnya, banyak warga miskin tidak bisa membeli bahan pangan yang layak.Tudingan ini dilontarkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) berdasarkan studi mengenai busung lapar yang dilakukan dokter dari FKM UI, dr. Ascobad Gani. Hasil studi menunjukkan penyakit busung lapar terjadi karena kelaparan yang parah selama enam bulan ini. "Apa yang terjadi selama enam bulan ini? Kenaikan BBM yang menyebabkan semua harga barang naik dan daya beli menurun sehingga masyarakat tidak mampu lagi mengakses pangan sebagai haknya yang paling mendasar," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Indah Suksmaningsih.Indah, dalam jumpa pers di kantor YLKI, Jl. Duren Tiga, Pancoran, Jakarta, Jumat (10/6/2005), memberikan contoh kasus penelantaran masyarakat di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di provinsi ini anggaran kesehatan yang dialokasikan Pemda Tingkat II hanya kurang dari 1 persen dari total anggaran, atau sekitar Rp 750 juta. "Ironisnya alokasi dana untuk renovasi rumah gubernur saja mencapai Rp 12 miliar," kata Indah yang dalam jumpa pers didampingi pengurus harian YLKI Tulus Abadi dan Sudaryatmo, peneliti YLKI Ilyani, serta konsultan YLKI Nurhidayat dan Ani Sumantri.Saat ini kasus anak di bawah lima tahun (balita) yang mengalami gizi buruk kronis dan busung lapar di berbagai daerah semakin terungkap ke permukaan. Di NTT terjadi lonjakan angka penderita busung lapar. Hingga Kamis (10/6/2005) kemarin di provinsi itu sudah tercatat 242 penderita busung lapar, padahal sehari sebelumnya masih tercatat 140 orang. Jumlah penderita yang meninggal pun menjadi 15 orang, bertambah delapan orang dibandingkan dengan data sehari sebelumnya.
(gtp/)











































