Kurir Ekstasi Ini Sebut Bandara KLIA 2 Lemah Pengawasan

Mei Amelia R - detikNews
Rabu, 27 Des 2017 19:35 WIB
Foto: Lagi, Polisi Bongkar Sindikat Narkotika Jaringan Internasional. (Lamhot Aritonang-detikcom)
Jakarta - Sebelum ditangkap polisi, Diana Christy alias Christy pernah lolos dari pemeriksaan petugas bandara di Malaysia saat membawa ekstasi dari negeri Jiran tersebut. Christy diwajibkan lewat Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 agar lolos pengawasan petugas.

"Jadi kalau mau pulang (ke Indonesia) wajib menggunakan Air Asia, harus melalui Bandara KLIA 2, tidak boleh melalui bandara KLIA 1," kata Christy saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Christy mengungkap, pengawasan di Bandara KLIA 2 lemah. "Di KLIA 2, karena memang pengamanannya sangat kurang, tidak ada cek bodi sama sekali," ungkap Christy.



Selain itu, Christy juga menggunakan media khusus untuk pengantaran narkoba dengan modus body wrapping ini. Sebelumnya, dia sudah mengirimkan barang sebanyak 5 kali dan lolos.

"Caranya orang yang memberikan barang itu (ekstasi) memberikan kita dari sana seperti pembalut wanita (khusus)," kata Christy.

Christy menerima perintah dari jaringannya lewat aplikasi. "Perintah dari WeChat," ucapnya.

Christy juga diberikan trik khusus agar lolos dari pemeriksaan badan menggunakan metal detector. Semua barang yang dia pakai tidak boleh ada mengandung besi.

"Kemudian diharuskan jangan memakai pakaian yang ada pernak-pernik logamnya agar bisa melewati metal detector, nggak boleh ada besi," sambungnya.


Christy ditangkap Subdit II Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya di halaman kantor pos Jakarta Utara pada Rabu (20/12) lalu. Dia ditangkap bersama rekannya, ABL alias AB.

Dari keduanya, polisi menyita 20 ribu pil ekstasi berlogo 'Hello Kitty' yang dikemas dalam 7 buah kotak susu merek 'Hero Baby'. Setelah ditangkap, polisi mengembangkan ke Apartemen Green Bay Pluit, tempat tinggal tersangka dan di sana ditemukan 1 buah timbangan pelastik dan 3 bungkus pelastik zipperbag.

"Kami ini hanya diperintahkan untuk mengambil barang di kantor pos yang waktu itu penangkapan saya, setelah itu jumlah dan segala macemnya saya tidak tahu karena memang hanya ada perintah untuk ambil paket makanan di kantor pos," sambung Christy.

Chrsty mengaku mendapatkan perintah untuk mengambil paket ekstasi asal Jerman itu dari A, seorang napi berkewarganegaraan Malaysia yang ditahan di sebuah Rutan di Jakarta. A memerintahkan Christy untuk menyerahkan ekstasi itu kepada tersangka SDN alias D.

"Kemudian perintah selanjutnya kalau barang ini harus dipecah," ucap Christy.

D selanjutnya ditangkap di Apartemen Green Bay Pluit, Jakarta Utara pada Kamis (21/12) dini hari. Selanjutnya, polisi mengembangkan tersangka D yang merupakan manajer di sebuah laundry itu, ke tempat laundry-nya di Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Di sana, polisi menyita 3 bungkus pelastik berisi sabu seberat total 166,02 gram, 7 butir ekstasi, 1 buah timbangan elektrik dan 3 buku berisi catatan transaski narkotika serta 2 buah pelastik teh Guanyinwang bekas kemasan sabu.

"Tersangka menyimpan narkotika di dalam dispenser," ujar Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Suwondo Nainggolan.

Christy dan dua tersangka lainnya dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana seumur hidup atau mati. (mei/idh)