Jenderal Palsu Diperiksa Kesehatan Jiwanya

Jenderal Palsu Diperiksa Kesehatan Jiwanya

- detikNews
Jumat, 10 Jun 2005 11:33 WIB
Semarang - Masih soal jenderal palsu, Poeniman Soedarmo. Ada tanda tanya besar bagi polisi: apakah Poeniman waras atau tidak? Karena itu, Poeniman pun diperiksa kesehatan jiwanya. Poeniman, seorang kakek berumur 84 tahun itu, dikeluarkan dari tahanan Polwiltabes Semarang yang berada di Jl. Dr Soetomo sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (10/6/2005). Dia dibawa menuju Disdokkes (Dinas Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jateng yang terletak di Jl. Pahlawan. Poeniman yang mengaku sebagai pensiunan jenderal ini didampingi tim penyidik dari Polwiltabes Semarang Aiptu Mujiana. "Kita bawa ke Dokkes untuk menjalani pemeriksaan jiwa," kata Mujiana. Menurut Mujiana, pihaknya terpaksa memeriksakan kesehatan jiwa Poeniman, karena pernyataannya selalu membingungkan. "Jawabannya selalu tidak tepat. Sehingga untuk memastikan apakah dia waras atau tidak, kita bawa ke Dokkes," ujar dia. Saat dibawa ke Dokkes, Poeniman tampak senyum-senyum saja. Mimik mukanya biasa-biasa saja, tidak tampak tertekan. Padahal, dia sedang ancaman serius, bisa terkena kurungan penjara empat tahun. Poeniman mengenakan baju warna merah, bercelana hitam, dan berpeci. Dia juga tetap memakai jam tangan. Poeniman memang membangga-banggakan jam tangannya. Jam tangan miliknya itu bergambar Garuda dan bertuliskan 'Istana Presiden RI. "Jam ini dikasih oleh Presiden Soekarno," aku kakek yang sudah memutih rambutnya itu. Tiba di Dokkes sekitar pukul 10.30 WIB. Tapi, ternyata dokter yang mengurusi kesehatan jiwa sedang tidak ada di tempat. Akhirnya, Poeniman kembali dibawa ke Tahanan Polwiltabes Semarang. "Nanti siang, kalau dokternya sudah datang, akan kita bawa lagi ke Dokkes," kata Mujiana. Bila memang hasil pemeriksaan jiwa membuktikan Poeniman tidak sehat, Mujiana akan segera berkonsultasi dengan pimpinannya. "Kalau memang tidak sehat, nanti dibebaskan atau tetap ditahan, terserah pimpinan," jelas dia. Penanganan polisi terhadap Poeniman memang agak berbeda. Poeniman mendapatkan perlakuan yang agak istimewa. Ini mungkin, karena dia adalah kakek yang sudah terlalu tua. Misalnya, saat tiba di tahanan Polwiltabes Semarang, Poeniman tidak langsung dijebloskan di selnya. Dia tetap dibiarkan jalan-jalan di lantai dua rumah tahanan itu. Dia juga dibiarkan asyik mengobrol dengan petugas piket rumah tahanan. Poeniman memang gampang diajak ngobrol. Apalagi, kalau dia diajak ngobrol soal Soekarno dan jenderal-jenderal TNI. Meski sudah dua hari menginap di rumah tahanan, hingga sekarang namanya belum dimasukkan ke dalam daftar penghuni tahanan. Berbeda dengan Wahidin (43), sang ajudan Poeniman. Nama Wahidin malah sudah masuk daftar penghuni tahanan. Tapi, Wahidin tidak diperiksa kesehatan jiwanya. Saat Poeniman dibawa ke Dokkes, Wahidin tetap di dalam selnya. Poeniman dan Wahidin ditangkap polisi pada Rabu (8/6/2005) saat berencana menemui Kapolda Jateng Irjen Pol Chaerul Rasjid. Poeniman ditangkap karena mengaku sebagai pensiunan jenderal. Dia akan menemui Kapolda untuk melobi agar orang yang dititipkan kepadanya bisa diterima di Akademi Kepolisian. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads