Orang Indonesia Temukan Planet Ekstra Solar Baru
Jumat, 10 Jun 2005 09:52 WIB
Jakarta - Di tengah-tengah prestasi Indonesia di dunia yang mengempis, prestasi Johny Setiawan sangat menggembirakan. Setiawan, yang orang Indonesia ini, memimpin sebuah tim astronomi Eropa dan Brazil, dan menemukan planet baru ekstra solar. Planet baru ini pengedar bintang raksasa ini dinamakan HD 11977 B. Setiawan bersama timnya membawa bendera lembaga dari Helidelberg, Jerman, Max Planck Institut fur Astronomie. Planet ini ditemukan tim pada akhir 2004. Namun, penemuan ini baru dipublikasikan dalam jurnal internasional pada Mei 2005. Ini merupakan sebuah planet gas dengan massa yang paling sedikit enam setengah kali lebih besar daripada Yupiter, planet terbesar dalam sistem tata-surya kita. HD 11977 B mengorbit bintang induknya, HD 11977 A, dalam kurun waktu sekitar dua tahun. Bintang itu sendiri merupakan sebuah bintang raksasa dengan massa hampir dua kali massa Matahari. Oleh sebab itu, HD 11977 A tergolong dari hanya beberapa bintang bermassa menengah, yang sampai saat ini diketahui memiliki pengedar substellar (baik planet atau bintang kerdil coklat). Sejak tahun 1999, sebuah tim yang dipimpin Setiawan mengikuti pergerakan bintang HD 11977 A. Mereka menggunakan spektrograf berresolusi tinggi, yang bernama FEROS, ditempatkan di teleskop bergaris tengah 2.2 meter di observatorium milik European Southern Observatory di La Silla (Chile). Metode yang digunakan adalah berdasarkan pada prinsip Doppler. Bintang dan pengedarnya bergerak mengorbit titik berat sistem bersama. Ketika bintang dalam garis pandang pengamat (arah radial) bergerak mendekat ke pengamat, garis-garis spektrumnya akan bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih pendek. Jika bintang tersebut menjauh dari pengamat, maka garis-garis spektrumnya akan bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang. Dari pergeseren garis-garis spektrum tersebut, maka kecepatan bintang dalam arah radial (dinamakan kecepatan radial) dapat diukur. Hanya dan hanya jika kecepatan radial tersebut tidak berasal dari aktivitas bintang (misalnya bintik bintang), maka dapat disimpulkan akan adanya sebuah benda pengedar. Dari kurva pengukuran tersebut massa minimum benda pengedar tadi dapat dihitung. Dalam kasus HD 11977 B, massa yang didapat adalah termasuk dalam massa planet-planet. Dengan metode ini sebenarnya sudah lebih dari 135 planit ditemukan. Akan tetapi, keunikan dari penenuman HD 11977 B terletak dalam bintang induknya sendiri, yaitu di massa bintang tersebut. Bintang HD 11977 A mempunyai massa yang satu setengah sampai hampir dua kali massa Matahari. Jadi, bintang ini tergolong bintang bermassa menengah. Sampai saat ini, bintang-bintang bermassa menengah masih jarang diselidiki untuk pencarian planet-planet ekstrasolar. HD 11977 B adalah planet pertama yang mengedar bintang sejenis itu, yang massa bintangnya dihitung secara akurat melalui pengukuran spektroskopis. Selain itu, HD 11977 A merupakan sebuah bintang raksasa. Bintang tersebut 50 kali lebih kuat kecemerlangannya daripada Matahari. Jari-jari bintang ini adalah kurang lebih 10 kali lebih besar daripada jari-jari Matahari. Biasanya bintang-bintang raksasa mempunyai tingkat aktivitas yang tinggi daripada bintang- bintang sejenis Matahari. Karena aktivitas inilah, pencarian planet pengedar bintang raksasa jauh lebih sulit daripada pencarian planet di sekitar bintang-bintang sejenis Matahari. Garis-garis spektrumnya harus dianalisa secara seksama untuk menghindari interpretasi yang salah dari variasi kecepatan radial. Penemuan HD 11997 B membuka bab baru dalam pencarian planet-planet ekstrasolar, yaitu pencarian sistem tata-surya lain, di mana bintang-bintang induknya massanya lebih besar daripada bintang-bintang sejenis Matahari. Hal ini dapat memberikan informasi penting untuk teori pembentukan planet. Misalnya bagaimana sistem tata-surya lain dengan bintang bermassa menengah atau bahkan lebih berat lagi dapat terbentuk, belum dapat dijelaskan secara tuntas. Terlebih lagi, penemuan planet-planet pengedar bintang-bintang raksasa adalah penting untuk memahami evolusi dari sistem tata-surya lain. Apakah sebuah planet masih dapat bereksistensi, jika bintang induknya sudah 'kehabisan hidrogen' sebagai sumber energi utama bintang, masih merupakan sebuah problem yang belum dapat dipecahkan. Terhadap penemuan planet ekstrasolar ini, Ketua Ikatan Alumni Astronomi ITB Suryadi menyambut baik. Dia salut terhadap hasil penemuan Jhony Setiawan, yang asli Indonesia ini. "Berita ini sangat menyejukkan hati, bak oasis di gurun sahara," kata Suryadi.Keterangan ilustrasi: Planet HD 11977 B (titik warna merah) berada di tengah-tengah planet HD 11977 (merah) dan matahari (kuning).
(asy/)











































