Balita Korban Gizi Buruk Dirawat di RSUD Sragen
Kamis, 09 Jun 2005 23:00 WIB
Sragen -
Di usia yang telah mencapai 2 tahun 7 bulan, berat badan Nopa Maulana tidak lebih dari 5 kilogram. Tubuh mungil ini dibalut kulit yang terlihat mengeriput. Sesekali air liur keluar dari mulutnya dalam volume cukup banyak. Kecuali bagian perut, organ tubuhnya kurus kering. Kondisi kesehatannya sudah cukup kritis. Bernapas pun, Nopa dibantu dengan tabung oksigen.Nopa adalah korban gizi buruk yang sudah tiga hari terakhir dirawat intensif di RSUD Sragen. Ibunya, Sulami, setia menungguinya. Dia lebih sering menangis jika melihat orang menengok anaknya. Demikian juga ketika wartawan datang ke Ruang Anggrek, tempat anaknya dirawat. Seringkali tangisnya pecah ditengah sedang menjawab beberapa pertanyaan.Nopa adalah anak ketiga pasangan Wiro Parjo dan Sulami warga Ringin Dadi, Jenggrik, Kedawung, Sragen, kawasan minus di kabupaten ujung timur Jawa Tengah tersebut. Mereka berasal dari keluarga miskin. Sulami hanyalah ibu rumah tangga biasa, sedangkan Parjo seorang buruh tani dan kadang-kadang menjadi buruh musiman di kota.Nopa, demikian kisah Sulami, lahir dengan kondisi sehat. Namun, sejak berusia 70 hari, kondisi anak laki-lakinya itu terus memburuk dan mengalami penurunan. Oleh kedua orangtuanya, Nopa dibawa berobat ke beberapa tempat, termasuk ke Puskesmas dan beberapa rumah sakit. Terakhir, saat masuk RSUD, berat badan Nopa cuma 4,2 kilogram."Kami sudah hampir putus asa. Namun tiga hari lalu, pihak RSUD Sragen mendatangi kami dan meminta agar Nopa dirawat di sini tanpa dipungut biaya," paparnya kepada wartawan di RSUD Sragen, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2005).Pihak RSUD Sragen memang sengaja menjemput anak tersebut untuk mendapatkan perawatan intensif. Mendengar kasus itu sejumlah pejabat di Kabupaten Sragen lalu ikut memberikan andil. Seorang petugas rumah sakit mengatakan memang ada dana sumbangan dari bupati, dinas kesehatan dan beberapa pejabat kabupaten lainnya. Seluruhnya terkumpul 'hanya' Rp 1 juta.Dr Widi Atmojo SpA, yang menangani Nopa, mengatakan balita tersebut sakit akibat gizi buruk. Dia lalu memaparkan tiga faktor penyebab penyakit yaitu kemiskinan, kekurangtahuan orang tua, serta mengidap penyakit yang melatarbelakanginya. "Pada anak ini mungkin terjadi ada proses spesifik di paru-parunya atau tuberkolusis," jelas Widi. Padahal, pengobatan sakit di saluran pernafasan itu butuh waktu yang lama. "Kekurangtahuan juga berpengaruh karena dari penuturan orang tua anak ini sering dibawa berobat pindah-pindah disaat masih belum tuntas," tukas dia. Korban Laporan Politis dan ABSWidi mengatakan kondisi perekonomian masyarakat memungkinkan terjadi penyakit ini menyerang anak-anak dari kalangan kurang mampu. Namun untuk mengetahui jumlah riil yang terjadi terkendala dengan manipulasi yang sering dilakukan oleh petugas di lapangan."Seringkali petugas Dinas Kesehatan melakukan manipulasi dengan prinsip asal bapak senang (ABS), sehingga kondisi riil seperti yang dialami anak ini tidak dilaporkan," tandas Widi. Dirinya juga pesimis data yang dimiliki Dinas Kesehatan akurat. "Kondisi seperti cukup banyak di Sragen ini namun kita tidak bisa mengetahui angka pastinya karena terkendala ABS dan laporan politis tadi," tegas Widi.
(ton/)










































