Gus Ipul-Anas Siap Garap Kreativitas Seni Anak Muda Jatim

Gus Ipul-Anas Siap Garap Kreativitas Seni Anak Muda Jatim

Rois Jajeli - detikNews
Minggu, 24 Des 2017 14:57 WIB
Surabaya - Pengembangan kreativitas bagi anak muda di Jawa Timur merupakan salah satu program yang dimasukkan visi misi bagi pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas. Cawagub Anas mengatakan, ruang-ruang kreativitas wajib difasilitasi pemerintah untuk menyalurkan energi bagi kaum muda ke arah positif.

"Namun pemerintah tidak boleh menentukan wujud kreasi bagi kaum muda," kata Abdullah Azwar Anas kepada detikcom usai acara Konser Slank di lapangan Markas Kodam V Brawijaya, Surabaya, Minggu (24/12/2017) dinihari.

Anas yang juga Bupati Banyuwangi menerangkan, kreativitas datang dari anak muda dan bottum up. Dan pemerintah hanya memfasilitasinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Intinya, seni dan budaya tidak boleh dibirokratisasi," jelasnya.

Menurut Anas, Jawa Timur adalah sumber lahirnya seniman yang berpengaruh di kancah nasional. Seperti seni di bidang musik etnik, kontemporer, pop, rock hingga musik dangdut. Juga beragam seni tari, seni rupa hingga sastra.

"Seni dan budaya kita masukkan dalam visi misi kami. Dalam penyusunan visi misi kami tentang seni dan budaya, melibatkan pelaku seni," terangnya.

Cawagub yang berpasangan dengan Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018 ini, memiliki beberapa jurus. Pertama, mementoring seni dan budaya. Maksudnya, anak-anak muda dipertemukan dengan maestro seni, untuk memperdalam ilmu dan pengalaman bagi anak muda.

"Nantinya akan dibikin akademi-akademi singkat selam satu sampai dua bulan dengan beragam cabang seni seperti, akademi teater dengan melibatkan anak muda dalam program intensif bersama maestro teater," tuturnya.

Ia menambahkan, sekolah menengah kejuruan (SMK-SMK) seni dikolaborasikan untuk program ini.

"Demikian pula guru kesenian, baik di sekolah maupun lembaga kursus, difasilitasi pengembangan dan kapasitas dirinya," paparnya.

Kedua, beasiswa seni-budaya, baik formal maupun non-formal. Secara formal dengan mengirimkan anak muda berkuliah di institut/sekolah tinggi kesenian. Untuk beasiswa non-formal, memfasilitasi anak-anak muda belajar langsung ke jantung seni.

Misalnya kita ajak sineas muda ke Pinewood Malaysia, ke India, Tiongkok, bahkan Hollywood untuk melihat bagaimana film digarap.

"Juga anak-anak muda bertemu tim festival musik kelas dunia untuk tahu bagaimana perpaduan musik dan manajemen pertunjukan menjadi sarana kreativitas sekaligus potensi ekonomi dahsyat," terangnya.

Ketiga, memperkenalkan seni ke anak muda dengan cara asyik, seperti festival dan pembelajaran luar kelas.

"Pembelajaran seni bisa interaktif melalui smartphone. Ini efektif. Bulan depan jalan di Banyuwangi dengan menggandeng perusahaan teknologi pendidikan, les tambahan kita sampaikan lewat gadget," papar Anas.

Anas optimistis dengan sejumlah cara itu mampu meregenerasi pelaku seni serta melahirkan pelaku seni berkelas.

Ia mencontohkan di Banyuwangi. Sekarang ini sanggar-sanggar di Banyuwangi bergairah untuk tetap berkativitas dan mengkader pelaku seni.

"Insyaallah di Banyuwangi sekarang ini tidak sulit menemukan generasi muda pelaku tari Gandrung karena tiap tahun ribuan pelajar terlibat festival-festival. Anak-anak SD-SMP yang memainkan musik etnik yang difestivalkan lewat Lalare Orchestra mendapat penghargaan pelaku pariwisata tingkat Asia Pasifik atau PATA," papar Anas. (roi/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads