Anies Ungkap Perjuangan Sang Ibu untuk Sekolah

ADVERTISEMENT

Hari Ibu

Anies Ungkap Perjuangan Sang Ibu untuk Sekolah

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 22 Des 2017 13:38 WIB
Gubernur DKI Anies Baswedan bersama ibunda Aliyah (Foto: dok. Instagram Anies Baswedan)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengunggah momen kedekatannya dengan sang ibunda. Di mata Anies ibundanya, Aliyah, merupakan sosok perubahan yang membawa visi kesetaraan kesempatan dalam pendidikan.

Anies mengunggah dua foto bersama Aliyah di akun instagramnya, Jumat (22/12/2017). Foto pertama merupakan momen Anies mencium pipi ibunda, dan foto kedua diambil saat Anies tengah berjalan bersama Aliyah di acara pameran buku.

"Ini adalah tentang Ibu. Namanya Aliyah. Lahir dan besar di kaki gunung Ciremai, di Kuningan Jawa Barat. Saat lulus SMP, di Kuningan belum ada SMA. Ayahnya menitipkan pada kerabatnya di Cirebon supaya anak perempuan ini bisa meneruskan SMA," tulis Anies.

Anies kemudian menceritakan perjuangan ibunya Aliyah yang merantau dari Ciremai untuk menimba ilmu ke Bandung. Kala itu, bukan lazim seorang anak perempuan meninggalkan rumah untuk bersekolah.

"Saat itu sempat jadi bahan 'omongan' di kampungnya karena seorang anak perempuan 'meninggalkan' rumah bukan karena menikah tapi karena sekolah. Diantar kakak laki-lakinya, Ibu naik oplet ke Cirebon. Selesai SMA, ia ingin jadi guru dan diterima di Unpad jurusan Pedagogi yang kemudian menjadi IKIP Bandung. Tahun 1965, Ibu, seorang anak perempuan yang dulu digunjingkan di kampung itu, menjadi anak pertama dalam sejarah keluarga besar yang pernah ikut wisuda jadi Sarjana. Sebuah lembaran baru bagi seluruh keluarga," urainya.

Anies kemudian bercerita ibunya kemudian mengajar di IKIP Bandung hingga akhirnya mutasi ke IKIP Yogyakarta karena menikah dengan ayahnya, Rasyid Baswedan. Kedua orang tuanya bekerja sebagai dosen.

"Ibu masih mengandung anak pertamanya, yaitu saya, ketika harus bolak-balik Yogya-Bandung karena sudah menikah tapi masih harus mengajar di Bandung. Hingga kini, 52 tahun kemudian, Ibu masih mengajar, masih membimbing disertasi dan masih terus dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan," ujarnya.

Ia menambahkan ibunya juga memiliki banyak anak angkat yang tadinya siswa-siswi perantau yang pernah sekolah di Yogyakarta. Salah satunya yang tinggal di Sorong, Papua Barat, dan terinspirasi mendirikan masjid dengan nama ibunya.

"Anak angkatnya, umumnya dari daerah-daerah yang bersekolah di Yogya. Mereka kini ada di mana-mana, bahkan salah satu anak angkatnya di Sorong, Papua Barat sana membuat Masjid dan pusat kegiatan dengan dinamai: Aliyah. Bersyukur beberapa waktu yang lalu sempat antar Ibu menengok dia, yang kini telah jadi "orang" di tanah asalnya di Papua," tuturnya.

Bagi Anies, ibu merupakan pendidik pertama dan terutama. Dari ibu memancar cinta kasih dan doa bagi anak-anaknya.

"Ibu adalah pendidik pertama, pendidik terutama. Dari Ibu mengalir cinta, kasih, dan doa yang tanpa batas," katanya.

Di matanya, Aliyah merupakan contoh perubahan visi kesetaraan dalam pendidikan. Dari perjuangannya itu, memberi dampak perubahan besar bagi keluarganya.

"Ibu adalah contoh efek perubahan dari visi kesetaraan kesempatan dalam pendidikan. Kakek adalah seorang yang amat sederhana, hidup di kota kecil dan dingin di kaki gunung, kesehariannya adalah usaha sarung tenun tradisional di rumah. Tidak ada banyak bacaan. Tapi ia rutin dengarkan radio, ia dengarkan tamu-tamu dari jauh bertutur tentang kemajuan, tentang perubahan. Ia berkesimpulan: perempuan harus sekolah hingga tuntas," urainya.

"Itu sesungguhnya adalah kisah perubahan. Memberikan kesempatan belajar pada perempuan memiliki dampak lintas generasi," imbuhnya.

Di akhir tulisannya, Anies tak lupa mengucapkan selamat Hari Ibu. "Selamat Hari Ibu. *ABW," tutupnya.

Unggahan Anies ini pun mendapat banyak komentar dari netizen. Hingga berita ini dibuat sudah lebih dari 50 ribu netizen yang menyukai unggahannya.

Ini adalah ttg Ibu. Namanya Aliyah. Lahir dan besar di kaki gunung Ciremai, di Kuningan Jawa Barat. Saat lulus SMP, di Kuningan belum ada SMA. Ayahnya menitipkan pada kerabatnya di Cirebon spy anak perempuan ini bisa meneruskan SMA. . Saat itu sempat jadi bahan "omongan" di kampungnya karena seorang anak perempuan "meninggalkan" rumah bukan karena menikah tapi karena sekolah. Diantar kakak laki2nya, Ibu naik oplet ke Cirebon. Selesai SMA, ia ingin jadi guru dan diterima di Unpad jurusan Pedagogi yg kemudian menjadi IKIP Bandung. Tahun 1965, Ibu, seorang anak perempuan yg dulu digunjingkan di kampung itu, menjadi anak pertama dalam sejarah keluarga besar yg pernah ikut wisuda jadi Sarjana. Sebuah lembaran baru bagi seluruh keluarga. . Sejak itu Aliyah mengajar di IKIP Bandung hingga mutasi ke IKIP Yogyakarta karena menikah dgn Ayah, Rasyid Baswedan, seorang pria dari Jogja. Mereka berdua sama-sama dosen. Ibu masih mengandung anak pertamanya, yaitu saya, ketika harus bolak-balik Yogya-Bandung karena sudah menikah tapi masih harus mengajar di Bandung. . Hingga kini, 52 tahun kemudian, Ibu masih mengajar, masih membimbing disertasi dan masih terus dalam berbagai kegiatan sosial & keagamaan. Anak angkatnya, umumnya dari daerah2 yg bersekolah di Yogya. Mereka kini ada di mana2, bahkan salah satu anak angkatnya di Sorong, Papua Barat sana membuat Masjid dan pusat kegiatan dengan dinamai: Aliyah. Bersyukur bbrp waktu yg lalu sempat antar Ibu menengok dia, yang kini telah jadi "orang" di tanah asalnya di Papua. . Ibu adalah pendidik pertama, pendidik terutama. Dari Ibu mengalir cinta, kasih, dan doa yg tanpa batas. . Ibu adalah contoh efek perubahan dari visi kesetaraan kesempatan dalam pendidikan. Kakek adalah seorang yg amat sederhana, hidup di kota kecil & dingin di kaki gunung, kesehariannya adalah usaha sarung tenun tradisional di rumah. Tidak ada banyak bacaan. Tapi ia rutin dengarkan radio, ia dengarkan tamu2 dari jauh bertutur tentang kemajuan, ttg perubahan. Ia berkesimpulan: perempuan harus sekolah hingga tuntas. . Itu sesungguhnya adalah kisah perubahan. Memberikan kesempatan belajar pada perempuan memiliki dampak lintas generasi. . Selamat Hari Ibu. *ABW

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on Dec 21, 2017 at 5:32pm PST

(ams/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT