Banjir memang menggenangi seluruh kawasan itu akibat hujan yang mengguyur. Sebenarnya, ada perahu karet yang disediakan Basarnas. Namun Danny lebih memilih basah-basahan, Kamis (21/12/17).
Sebelum sampai ke titik banjir terparah, Danny berjalan kaki sekitar tiga kilometer mengelilingi kompleks dan menembus Wilayah Pasar Sentral Land (BTP). Danny, yang mengenakan kemeja putih dibalut jas hujan, menerobos air yang setinggi pinggangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walkot Makassar Ramdhan 'Danny' Pomanto mengecek kondisi banjir. (Ibnu/detikcom) |
Dalam menangani banjir, Danny menjelaskan langkah utama yang harus dilakukan adalah bagaimana penanganan untuk pengungsi. "Baru kemudian kita concern soal listrik, jangan sampai ada apa-apa. Karena ketinggian air saat ini hampir menyentuh gardu listrik," ucap Danny saat menemui korban pengungsi di masjid.
Danny mengatakan persoalan banjir di Kodam III merupakan kiriman dari sungai di Kabupaten Maros. Jadi penyelesaiannya harus melalui koordinasi provinsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Maros.
"Saya kira solusinya harus ada koordinasi yang baik antara semua pihak. Karena kita ketahui lokasi ini memang tempatnya air saat musim hujan. Tapi insyaallah segera kita tangani, sepertinya harus dibuat tanggul di sini," ujarnya.
Diketahui, Kompleks Kodam III merupakan titik banjir terparah di Kota Makassar akibat curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Banjir yang terjadi sejak Rabu (20/12) itu merendam permukiman yang dihuni sekitar 460 keluarga dengan jumlah penduduk 1.647 jiwa ini. (idh/idh)












































Walkot Makassar Ramdhan 'Danny' Pomanto mengecek kondisi banjir. (Ibnu/detikcom)