Pembunuhan WN Jepang Oleh Suaminya Sendiri Bermotif Duit

Pembunuhan WN Jepang Oleh Suaminya Sendiri Bermotif Duit

- detikNews
Kamis, 09 Jun 2005 13:06 WIB
Jakarta - Jangan mencari suami macam Eddie Alharisons. Sebab cintanya pada duit mampu mengalahkan cintanya pada sang istri. Buntutnya, sang istri dihabisi. Tabungan sang istri yang warga Jepang itu pun dikuras.Eddie bukanlah pria yang istimewa. Dia hanya tamatan SMU. Sempat kuliah di PTS di Yogyakarta, tapi kemudian drop out/I>. Kelebihan Eddie adalah dia cerdas dan supel. Kecerdasannya membuatnya pintar berbahasa Jepang.Dan berkenalanlah dia dengan Ishihzawa Tomoko, seorang gadis Jepang. Tomoko rupanya terpikat pada kefasihan Eddie berbahasa Sakura. Apalagi Eddie juga enak diajak ngobrol karena sifat supelnya itu. Cinta pun merebak. Keduanya sepakat menikah pada tahu 2001. Pernikahan dilangsungkan di KUA Umbulharjo, Yogyakarta.Saking cintanya pada Eddie, Tomoko yang umurnya lima tahun lebih tua dari Eddie, rela mengongkosi hidup pria itu. Tomoko juga ikhlas membiayai Eddie piknik ke Jepang hingga dua kali. Di negeri 'saudara tua' itu, Eddie diajak jalan-jalan ke sejumlah tempat bersejarah, termasuk ke Hiroshima dan Nagasaki yang pernah dijatuhi bom atom.Selama di Indonesia, Tomoko bekerja sebagai peneliti tumbuhan. Dia sering berpindah-pindah lokasi penelitian, misalnya di Yogyakarta, Makassar, dan Gorontalo. Eddie pun diajak serta berpindah-pindah.Pada tahun 2003, Tomoko mudik ke negerinya. Hebohnya, saat ditinggal sang istri yang kini berumur 30 tahun, Eddie malah menikah lagi dengan Yulia Asmarani.Tahu hal itu, Tomoko jelas tak terima. Namun baru April 2005 dia bisa balik lagi ke Indonesia. Tujuannya satu, minta cerai dari Eddie, suami yang selama ini dia ongkosi hidupnya.Tomoko mendarat di Bandara Pekanbaru untuk selanjutnya menuju Payakumbuh, Sumatera Barat, tempat Eddie dan istri barunya tinggal. Pasangan ini menetap di Jl Sudirman 30 A, Balaikadang, Payakumbuh.Tapi bukan surat cerai yang diterima Tomoko. Justru kematian yang didapatnya. Eddie bersama Jonni Rahman, sepupu Eddie, membunuh Tomoko dengan menjerat lehernya dengan tali rafia pada 26 April 2005. Setelah tak bernyawa, mayat Tomoko dibungkus dengan sprei dan ditanam di tempat penahan longsor (bronjong) di Kelok 9, sekitar empat jam dari Kota Padang.Eddie dan Jonni mengambil kartu ATM Citibank Tomoko. Sang istri, Yulia, kebagian menguras tabungan Tomoko. Sejak Tomoko dihabisi, tak kurang 152 kali Yulia mampir ke ATM Citibank. Setidaknya itu yang terdeteksi di ATM Citibank di kawasan Senayan, Jakarta, dan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.Dari 152 kali penarikan itu, komplotan penjahat ini berhasil mengumpulkan Rp 260 juta. Uang ini, antara lain, dipakai untuk membeli Opel Blazer bernomor polisi B 1935 J.Setiap kali mengambil duit, Yulia berusaha menarik di atas Rp 30 juta. Tapi sayangnya, mesin hanya mau mengeluarkan angpao di bawah angka itu. Aksi pembobolan harta Tomoko ini berakhir setelah pelaku salah memasukkan PIN hingga dua kali. Citibank langsung memblokir rekening Tomoko.Untuk sementara, komplotan bandit ini aman. Polisi baru mencium ada yang tak beres ketika pada Rabu, 1 Juni 2005, Konsul Jepang di Jakarta melapor ke Polda Metro Jaya telah kehilangan warga negaranya sejak 1 Mei 2005.Polisi spontan mengincar Eddie. Kecurigaan itu muncul setelah Eddie mengirim e-mail kepada Kazu, adik Tomoko, di Jepang sana. Isi surat elektronik itu adalah korban sudah meninggalkan Pekanbaru sejak tanggal 28 April 2005. Eddie juga mengaku telah melaporkan kehilangan korban pada polisi di Bandara Pekanbaru."Kebohongan keterangan pelaku dilakukan untuk menghilangkan jejak. Itu awal kecurigaan kita pada tersangka," kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Suhardi Alius dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (9/6/2005).Dalam jumpa pers itu, Suhardi didampingi staf dari Kedubes Jepang. Staf itu meminta agar foto jenazah Tomoko yang telah ditemukan tidak dipublikasikan mengingat kondisinya sudah rusak.Hari ini rencananya korban akan dikremasi di Padang. Selanjutnya abu kremasi dikirimkan ke keluarganya di Jepang. Ketiga tersangka, Eddie, Jonni dan Yulia, saat ini mendekam di sel Polda Sumbar. Kasus ini ditangani Polda Sumbar karena TKP-nya berada di provinsi itu.Polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain sebuah ATM Citibank atas nama korban, satu unit Opel Blazer B 1935 J yang dibeli tersangka dari hasil pembobolan ATM korban, serta Panther hitam BA 2018 TE yang digunakan mengangkut korban setelah dibunuh. Juga disita tali rafia untuk menjerat leher korban, seprei dan handuk untuk membungkus korban sebelum ditanam.Pengungkapan kasus ini berkat kerjasama Polda Metro Jaya, Polda Sumbar dan polisi Jepang. "Polri tidak pernah main-main sekalipun pelakunya adalah warga negara sendiri," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Tjiptono. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads