Abu Jibril Yakin Selalu Dikelilingi Intel
Kamis, 09 Jun 2005 12:35 WIB
Jakarta - Sekawanan intel ternyata selalu membayangi hidup Abu Jibril. Segala upaya dilakukan agar mereka bisa mengintai bapak 11 anak ini. Ada yang menyamar sebagai tukang bakso, ada juga yang beralih profesi jadi tukang becak.Penyamaran yang dilakukan intel-intel ini diakui Abu Jibril semakin intensif sebelum sebuah bom meledak di pekarangan rumah yang dikontraknya."Saya yakin intel itu pasti ada untuk orang seperti saya," tutur Abu Jibril alias Muhammad Iqbal Abdurrrahman kepada wartawan di kediamannya Jl. Bima Blok C No.106, Kompleks Witana Harja, Pamulang, Tangerang, Banteng, Kamis (9/6/2005).Kalimat yang dilontarkan Abu Jibril ini terkait dengan kesaksian sejumlah warga. Menurut tetangga Abu Jibril, dua minggu sebelum kejadian ada intel yang menyamar sebagai tukang bakso atau tukang becak. Karenanya, Abu Jibril yakin meledaknya bom berjenis flash powder itu hanya sebagai pembuka jalan bagi aparat kepolisian untuk memeriksa atau menggeledah isi rumahnya. "Kalau tidak ada kejadian seperti ini, polisi tidak bisa masuk ke rumah saya," kata pria berjenggot ini.Abu Jibril menuturkan, ada upaya dari satu kelompok untuk mendiskreditkan dirinya. Sebab, saat ini sedang hangat-hangatnya kasus peledakan bom di Poso, ancaman bom di Jakarta, penutupan Kedubes AS, dan penahanan Abu Bakar Ba'asyir. "Bila pola pikirnya seperti itu, maka ada grand design di balik peristiwa ini," ujar suami Fatimah Zahro (40) ini.Abu Jibril yang biasa dipanggil ustad oleh tetangganya, juga mengatakan, semua barang yang disita kepolisian seperti sarung pistol, sarung pisau bayonet, dan batangan besi bukan barang miliknya. Barang-barang itu milik Erwin Yusa, pemilik rumah yang merupakan mantan anggota marinir."Saya tidak tahu sama sekali barang tersebut ada di mobil VW milik Erwin. Mobil sudah ada sebelum saya di sini," kata pria kelahiran Lombok Timur ini. Mobil VW tersebut selama ini memang diparkir di halaman rumah bercat putih itu.Dia juga menyayangkan sikap polisi yang kurang beradab saat menggeledah rumahnya. Sebagai seorang yang teraniaya, tutur Abu Jibril, polisi justru mengambil barang-barangnya seperti lap top, ratusan keping VCD dan kaset handycam. Padahal lap top tersebut berisi materi kegiatan dakwahnya."Dengan memakai sepatu, polisi masuk ke dalam rumah saya. Masuk ke kamar dan tanpa mengucapkan salam," sesalnya. Terkait pemeriksaan yang dilakukan di Polres Jakarta Selatan, Abu Jibril mengungkapkan, ada 23 pertanyaan yang disodorkan polisi kepadanya. Semua pertanyaan itu berhubungan dengan ledakan bom dan hal-hal yang aneh sebelum terjadinya ledakan."Mereka kooperatif. Mereka tidak bertanya di luar ledakan bom itu. Saya juga diperiksa sebagai saksi korban," katanya.Di akhir pembicaraan, Abu Jibril mengaku tetap akan mengisi kegiatannya sebagai penceramah dan meneruskan penulisan bukunya. Ada lima buah buku yang kini tengah disusunnya. "Hari ini katanya lap top saya akan dikembalikan. Mudah-mudahan. Jadi saya bisa terus menulis," kata Abu Jibril.Dia juga menambahkan, kemungkinan hari ini tidak akan ada pemeriksaan yang dilakukan aparat kepolisian terhadapnya.
(umi/)











































