"Yang menyediakan ADS yaitu Dinas Kesehatan. Setiap ada pasien masuk, kita laporkan ke Dinas. (Penyediaan) ADS itu tanggung jawab pemerintah," kata Kepala Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUZA Raihan kepada wartawan, Selasa (19/12/2017).
Menurutnya, rumah sakit tidak menyediakan ADS karena masa kedaluwarsa serum tersebut sangat singkat. Meski demikian, 11 pasien yang dirawat di RSUZA saat ini sudah mendapatkan serum antidifteri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasien mesti diberi antidifteri dan antibiotik. Antibiotik untuk membunuh kuman. Kita upayakan secara semaksimal mungkin. Semua pasien yang dirawat sudah dapat ADS. ADS diberikan satu kali," ungkapnya.
Jumlah pasien meningkat
Jumlah penderita suspect difteri yang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh bertambah menjadi 11 orang. Total hingga hari ini, sudah 100 warga Tanah Rencong yang menderita penyakit mematikan tersebut.
Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medis RSUZA Banda Aceh, Azharuddin, mengatakan pasien difteri yang dirawat di RSUZA terdiri dari sembilan anak-anak dan dua perempuan dewasa. Mereka dirawat di Ruang Respiratory High Care Unit (RHCU) dan ruang isolasi.
"Difteri di Aceh sekarang KLB (kejadian luar biasa) terbesar ke-2 di Indonesia. Jumlah pasien yang dirawat jadi 11 orang," kata Azhar.
Pasien suspect difteri ini akan menjalani masa perawatan selama 14 hari. Selama dirawat, pasien akan diberi antidifteri dan antibiotik. Hingga hari ini, rumah sakit milik pemerintah tersebut sudah menangani 41 pasien suspect difteri dan tiga di antaranya meninggal dunia.
"Kita tidak bisa prediksi ujungnya. Jumlah pasien suspect difteri malah bertambah," jelas Azhar.
Sementara itu, Kepala Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUZA, dr Raihan SpA(K), mengatakan pasien anak suspect difteri yang dirawat di RSUZA rata-rata tidak mendapatkan imunisasi dan ada juga yang imunisasinya tidak lengkap. Pasien yang ditanganinya berusia 4-16 tahun.
"Rata-rata pasien kita tidak ada imunisasi lengkap. Paling banyak ada yang tidak imunisasi sama sekali. Penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi," kata Raihan. (asp/asp)











































