"Saat ini kandidat cagub/cawagub memang masih banyak yang jalan di tempat, tetapi secara umum mereka sebenarnya terus melakukan lobi-lobi dan komunikasi politik. Bahkan partai menengah saat ini diprediksi akan menjadi penentu atau istilahnya playmaker," kata pengamat politik Universitas Sriwijaya, Alfitri, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (19/12/2017).
Partai menengah yang disebut sebagai playmaker adalah PKS dengan 5 kursi, PKB dengan 6 kursi, dan Hanura dengan 5 kursi di DPRD. Ketiga partai ini memang tidak memiliki kursi banyak tetapi akan menentukan pasangan calon untuk dapat maju dengan memenuhi 15 kursi di DPRD Sumsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dua kandidat di atas, ada pula Ishak Mekki, Wakil Gubernur Sumsel sekaligus Ketua Partai Demokrat Sumsel dan Aswari Rivai, yang juga menjabat Bupati Lahat dan Ketua Partai Gerindra Sumsel. Meskipun partai politik belum mengeluarkan SK dukungan secara sah, keduanya diketahui terus bergerilya.
Dukungan partai menengah inilah yang diprediksi menjadi penentu kandidat untuk dapat melanjutkan pertarungan pada 2018. Bahkan partai besar sekelas PDI Perjuangan dan Hanura pun akan membutuhkan dukungan partai menengah jika tidak berkoalisi sesama partai besar.
Tidak hanya itu, Alfikri juga menyebut akan ada potensi dua pasangan calon saja yang akan bertarung di Pilgub Sumsel. Hal ini dapat terjadi jika pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya tidak mendapat dukungan partai sampai batas masa pendaftaran.
"Memang tidak tertutup kemungkinan Herman Deru-Mawardi Yahya tidak mendapat dukungan jika komunikasi politik tidak tercapai. Tetapi itu bisa berubah karena mereka hanya butuh 4 kursi lagi dan cukup dengan dukungan satu partai menengah tadi," tutupnya.
Sebagaimana diketahui, saat ini di Sumsel tidak ada satu partai pun yang bisa mengusung calon kandidat sendiri tanpa berkoalisi dan mendapatkan 15 kursi dukungan di DPRD Sumsel. (asp/asp)











































