"Ya kalau diibaratkan, ini jadi modal lah, jadi gizi untuk kampanye. Bukan modal dalam arti duit ya, tapi modal kinerja untuk meyakinkan publik. Karena publik kan sudah dewasa sudah semakin rasional bahwa mereka perlu kinerja yang sudah berjalan, bukan yang baru akan berjalan atau baru konsep saja," ujar Anas kepada detikcom, Selasa (19/12/2017).
Menurut Anas, Tjahjo berpesan agar setiap kepala daerah termasuk dirinya terus membuat inovasi yang berkelanjutan. Inovasi ini dilakukan berbasis dengan gotong royong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jatim ke depan juga begitu, napasnya inovasi dan kolaborasi," sambungnya.
Soal award yang diterima Anas, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo menyebut penilaian dilakukan dengan tujuh indikator yang dinilai Kemendagri adalah kapabilitas, akseptabilitas, kompatibilitas, kredibilitas, integritas, rekam jejak, dan inovasi.
Selain itu, Suyanto menyebut hasil kinerja yang ditunjukkan lewat peningkatan kesejahteraan warga di mana Banyuwangi mampu meningkatkan pendapatan per kapita warga dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016.
"Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim sebesar 11,77 persen," jelas Suyanto. (fdn/fdn)










































