Inter-Continental MidPlaza Bantah Hunian Turun Akibat SMS Bom
Rabu, 08 Jun 2005 19:33 WIB
Jakarta - Layanan pesan singkat (SMS) bom ternyata bukan biang keladi anjloknya tingkat hunian hotel berbintang lima di Jakarta. Meski sempat bikin heboh, SMS bom dinilai manajemen Hotel Inter-Continental MidPlaza tidak ada hubungannya dengan data yang dikeluarkan Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM)."Hotel bintang lima di Jakarta umumnya adalah hotel bisnis. Hotel bisnis itu secara tren, ada atau tidak ada ancaman bom, setiap akhir pekan, Jumat hingga Minggu, tingkat huniannya memang turun," ungkap Direktur Public Relations (PR) Hotel Inter-Continental MidPlaza, Yudith Nurwulan, kepada detikcom di Jakarta, Rabu (8/6/2005).Berbeda dengan hari kerja, Senin hingga Kamis, lanjut Yudith, tingkat hunian hotel bisnis saat itu justru akan bergerak naik. "Normalnya tren di hotel bisnis memang begitu. Jadi bukan karena adanya SMS bom," jelasnya.Sebelumnya FSPM Hotel, Restoran, Plaza, Apartemen, Katering dan Pariwisata Indonesia mengeluarkan data penurunan tingkat hunian hotel bintang lima di Jakarta.Menurut Sekretaris Umum FSPM Odie Hudiyanto, penurunan tingkat hunian ini akibat adanya peringatan yang dikeluarkan Kedubes Amerika Serikat pada Jumat, 3 Juni 2005, dan SMS bom yang beredar esok harinya.Berdasarkan data yang dihimpun FSPM, dari 14 hotel berbintang lima di Jakarta, terjadi pembatalan reservasi kamar. Pembatalan terutama dilakukan pelaku bisnis warga negara asing. Penurunan paling nyata terjadi pada Hotel JW Marriott, The Ritz Carlton dan Inter-Continental MidPlaza.Tingkat hunian di Hotel JW Marriott yang pada Rabu, 1 Juni 2005 masih tercatat 74,17 persen langsung anjlok menjadi 52,25 persen pada Minggu, 5 Juni 2005. Sedangkan kamar yang terjual turun dari 247 kamar menjadi 174 kamar.Sedangkan tingkat hunian di Hotel The Ritz Carlton yang masih tercatat 35,14 persen pada 1 Juni 2005 melorot ke angka 19,37 persen. sedangkan kamar yang terjual menjadi 43 kamar dari 117 kamar.Penurunan cukup besar juga terjadi pada tingkat hunian di Hotel Inter-Continental MidPlaza dari 94,58 persen pada 1 Juni 2005 menjadi 59,04 persen pada 5 Juni 2005, dan kamar yang terjual turun dari 314 kamar menjadi 174 kamar.Namun Yudith meyakinkan, tidak ada hubungan antara anjloknya tingkat hunian hotel dengan ancaman bom tersebut. Apalagi tanggal dikeluarkannya data tersebut tidak merefleksikan tren di hotel bisnis. "Tanggal 1 Juni 2005 kan jatuh hari Rabu dan 5 Juni 2005 jatuh hari Minggu. Kalau mau membandingkan, lebih valid kalau datanya month to month," kata Yudith, seraya menambahkan bahwa operator Inter-Continental MidPlaza tidak berpusat di AS, tapi di Singapura.Meski anjloknya tingkat hunian hotel bukan karena ancaman bom, Yudith mengungkapkan, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga keselamatan tamunya. "Keamanan kita sudah ditingkatkan sejak peristiwa bom Bali. Jadi jauh sebelum adanya travel warning. Tapi kita tetap meningkatkan kewaspadaan," tutur Yudith, sambil menambahkan sejauh ini tidak ada tamu yang meng-cancel pesanannya.Selain itu, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan pihak kepolisian. Dengan kerjasama tersebut, pihaknya selalu mendapatkan informasi formal dari aparat mengenai hal-hal yang mencurigakan, termasuk SMS bom yang beredar Sabtu pekan lalu.
(umi/)











































