Sambil menitikkan air mata, Maryanti mengatakan ia dinikahkan pada usia 11 tahun dengan lelaki berusia 40 tahun. Sebelum dinikahkan, perempuan asal Bengkulu itu terpaksa berhenti sekolah di kelas V SD dan membantu orang tuanya berkebun untuk menafkahi dirinya, kedua orang tua, dan dua adiknya.
"Umur 11 tahun (saya) sudah dijodohkan Bapak sama orang 40 tahunan. Padahal aku nggak ngerti kalau mau dijodohkan. Kirain kawan biasa saja, rupanya ada maksud lain," kata ibu dua anak ini kepada wartawan di gedung MK, Jalan Merdeka Barat, Senin (18/12/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah diancam, orang tua akan masuk penjara karena nggak bisa bayar utang. Saya minta dinikahkan pada usia 14 tahun karena nggak ngerti apa-apa. Selisih umur kami 28 tahun dan saya nggak suka," ujar perempuan yang sempat mengalami keguguran selama tiga kali ini sebelum melahirkan dua anaknya yang keempat dan keenam ini.
Pernikahannya direkayasa sedemikian rupa agar pihak lelaki tidak mengeluarkan mahar. Bahkan, berselang empat tahun usia pernikahan, Maryanti baru mengetahui bahwa suaminya telah punya istri lain.
"Direkayasa, saya dibilang janda. Kalau dibilang janda kan nggak ada uang adat. Aku nggak begitu ngerti. Waktu menikah mengakunya bujangan (suami Maryanti). Nggak tahunya, waktu anak lahiran di usia lima bulan, kata bude (bibi)-nya, dia sudah punya istri," kata Maryanti, yang saat itu anak ketiga yang baru lima bulan meninggal karena sakit.
Meski sudah lebih dari 26 tahun menikah, bukan kebahagiaan yang didapat Maryanti. Ia malah makin sengsara. Mulai mencari nafkah untuk biaya hidup anak dan suami, kekerasan verbal dari suami, bahkan ia dilarang ikut organisasi.
"Saya bekerja jadi pembantu rumah tangga. Suami saya nggak mau kerja karena malu. Kan dulu dia orang berada. Kalau tidak karena dua anak saya, sudah saya tinggalkan dia. Saya diam-diam ke sini," kata Maryanti. (asp/asp)











































