DetikNews
Senin 18 Desember 2017, 13:45 WIB

6 Bulan Perkara Digantung, 2 Penggugat Pernikahan Dini Datangi MK

Denita - detikNews
6 Bulan Perkara Digantung, 2 Penggugat Pernikahan Dini Datangi MK Foto: dok. Thinkstock
Jakarta - Dua dari tiga pemohon penggugat pernikahan dini, Maryanti (30) dan Rasminah (28) mendatangi Mahkamah Konstitusi (MK). Keduanya mempertanyakan nasib perkara yang sudah 6 bulan tak kunjung dilanjutkan.

Maryanti, pemohon asal Bengkulu dan Rasminah asal Indramayu tiba di Gedung MK, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017) siang. Keduanya didampingi oleh tim kuasa hukumnya, Indry Oktaviani dari kelompok masyarakat Koalisi 18+ beserta anak dan teman-temannya.

Adapun perkara yang digugat para pemohon adalah permohonan judicial review Pasal 7 Ayat 1 UU Perkawinan mengenai batas usia perkawinan laki-laki dan perempuan. UU Perkawinan pasal 7 menyebutkan batas usia menikah laki-laki adalah 19 tahun dan perempuan berusia 16 tahun. Para pemohon berharap batas usia perkawinan antara laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni usai 19 tahun.

"Kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan ke MK mengenai kepastian sidang lanjutan perkara yang digugat oleh pemohon. Kami sudah menunggu selama 6 bulan. Apakah sidang ini dilanjutkan apa tidak," kata Indry kepada wartawan.

Indry mengatakan MK telah mengadakan sebanyak dua kali sidang dalam perkara Nomor 22/PUU-XV/2017. Sayangnya, usai sidang kedua pihaknya tak lagi mendapat kepastian proses persidangan.

"Sidang pertama, tanggal 24 Mei 2017 dengan agenda pemeriksaan kelengkapan permohonan. Sidang kedua diadakan pada 7 Juni 2017 dengan agena pembacaan perbaikan permohonan sesuai dengan majelis hakim dan dinyatakan revisi diterima dan akan dibawa ke pleno musyawaratan. Anehnya, hingga saat ini tidak ada jawaban kepastian sidang," ujar Indry.

Bahkan, kata Indry, tim kuasa hukum sudah mengirimkan surat kepada Ketua Mahkamah Konsitusi pada Rabu (23/8) lalu. Tetapi, MK belum memberi jawaban pasti dengan alasan masih menunggu hasil sidang musyawarah majelis hakim MK.

"Sekarang sudah bulan Desember sejak jawaban terakhir. Sampai sekarang kami belum mendapatkan kabar apapun. Tadinya para pemohon ingjn hadir dalam persidangan, tetapi hari ini beliau hadir karena nggak ada kepastian. Sudah saatnya korban menyampaikannya sendiri," kata Indry.

Di tempat yang sama, Maryanti dan Rasminah turut berbicara atas kelambanan MK. Mereka berharap MK segera memberi kepastian atas perkara yang digugat.

"Saya dinikahkan pada usia 11 tahun dengan laki-laki usia 40 tahun. Padahal saya nggak ngerti apa-apa tentang perkawinan. Saya dipaksa meski menolak, saya terpaksa menerima pernikahan karena diancam orantua saya akan dipenjara karena nggak mampu bayar utang. Utang apa juga ga jelaskan. Malah saya dibilang janda biar nggak pakai uang adat (mahar). Saya ingin nggak ada korban yang sama dengan saya," kata Maryanti.

Sebelumnya, MK menolak gugatan pernikahan dini dengan materi yang sama pada Juni 2015. Kemudian, April 2017 lalu korban bersama oleh kelompok masyarakat Koalisi 18+ kembali menggugat materi pernikahan dini.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed