Abu Jibril di Mata Penjaga Masjid Al-Munawwarah

Abu Jibril di Mata Penjaga Masjid Al-Munawwarah

- detikNews
Rabu, 08 Jun 2005 15:42 WIB
Jakarta - Nama Abu Jibril sudah tidak asing lagi di telinga. Setahun lalu orang membicarakan kasus pemalsuan identitas yang dilakukannya. Kini dia dibicarakan lagi karena kasus bom yang meledak di pekarangan rumah yang dikontraknya di Kompleks Witana Harja, Pamulang.Seperti apa sebenarnya sosok laki-laki berpostur sedang ini di mata orang-orang yang mengenalnya secara dekat? "Dia orang yang sangat tegas," tutur Teguh, salah satu penjaga Masjid Al-Munawwarah. Di masjid yang terletak sekitar 200 meter dari kediamannya inilah Abu Jibril biasa menjalankan aktivitas keagamaannya. Menurut Teguh, Abu Jibril tidak segan-segan menegur orang yang tidak menjalankan salat jika waktu salat sudah tiba. Suatu hari, cerita Teguh, Abu Jibril alias Muhammad Iqbal Abdurrahman, pernah menghampiri sekumpulan tukang ojek yang sedang mangkal dekat rumah kontrakannya di Jalan Bima, Blok C No. 106.Meski tidak terlihat marah, Abu Jibril menegur dengan tegas kumpulan tukang ojek tersebut. Abu Jibril menyuruh mereka menjalankan salat karena mereka tidak beranjak sedikit pun meski adzan sudah berkumandang dari masjid.Sikap tegas Abu Jibril ini sering kali disalahartikan. Bukannya mengikuti anjuran Abu Jibril, tukang ojek tersebut malah menunjukkan sikap tidak sukanya karena Abu Jibril dianggap terlalu ikut campur urusan mereka. Sikap tertutup Abu Jibril juga membuatnya tidak terlalu populer di mata para tetangganya. Dijelaskan Teguh, Abu Jibril sering menghabiskan waktu di masjid. Dia selalu menjadi imam. Bahkan, Abu Jibril juga mengisi acara pengajian dan ceramah di masjid tersebut.Tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok di masjid tersebut sejak Abu Jibril menjadi penghuni kompleks perumahan itu. "Paling-paling kalau biasanya zikir atau doa qunut dibacakan keras-keras sekarang tidak lagi," kata Teguh.Satu lagi yang menjadi ciri khas Abu Jibril adalah pamflet yang selalu disebarkannya saat ia memberikan ceramah. Pamflet tersebut biasanya berisi ceramah yang disampaikan kepada jamaah masjid saat itu. Di bawah pamflet, Abu Jibril tidak pernah lupa membubuhkan namanya. Sering Pergi Ke Luar KotaAbu Jibril, tutur Teguh, juga sering melakukan perjalanan ke luar kota. Sejak tinggal di kompleks itu, pada puasa tahun lalu, pengurus Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ini telah melakukan beberapa kali lawatan ke Solo, Yogyakarta dan Aceh."Saya pernah menjemput beliau ke bandara sekitar sebulan yang lalu. Katanya Abah (panggilan Teguh kepada Abu Jibril) baru pulang dari Solo," ungkap teguh.Rabu (8/6/2005) ini, Abu Jibril rencananya juga akan pergi ke Yogyakarta. Namun, laki-laki dengan tinggi sekitar 160 cm ini keburu berurusan dengan polisi karena bom yang meledak di pekarangan rumahnya. Padahal tiket pesawat sudah dibeli oleh kurir masjid. "Pukul 08.30 WIB tadi Abah ditahan. Padahal orang yang mengantar tiket sudah datang," katanya.Teguh juga menambahkan, dari 11 anak Abu Jibril, tujuh di antaranya tinggal di rumah bercat putih tersebut. Anak-anaknya yang tinggal di rumah itu adalah Jibril (23), Isrofil (20), Wardah (18), Ridwan (12), Rokib (11), Atid (10), dan Udin (3). Saat ini istri Abu Jibril yang menggunakan cadar ini tengah mengandung anak ke-12.Sekitar setahun yang lalu, laki-laki berjenggot ini pernah dituding Polri melakukan pelanggaran keimigrasian dan memalsukan identitas. Dia juga dituding terlibat aktivitas Jamaah Islamiyah (JI). Saat itu keluarga Abu Jibril menunjuk LBH dan Tim Pembela Muslim (TPM) sebagai pengacaranya.Keluarga membantah Abu Jibril telah memalsukan identitasnya. Perubahan identitas yang dilakukan Abu Jibril terkait keberangkatannya ke Malaysia. Sebab, aturan kependudukan di Malaysia menyebutkan jika seseorang dipulangkan ke Indonesia dan akan balik lagi ke Malaysia, dia tidak boleh menggunakan nama aslinya. Nama asli Abu Jibril adalah Fikhruddin. Laki-laki berkulit kuning itu lahir di Lombok Timur yang kemudian merantau ke Yogya. Pada 1985, Jibril merantau ke Malaysia dengan menggunakan KTP Yogya dengan nama asli Fikhruddin. Sedangkan nama Muhammad Iqbal merupakan nama hajinya. Di Malaysia, Abu Jibril pernah ditangkap pada Juni 2001. Tuduhannya ketika itu adalah memberikan ceramah agama tentang mati syahid yang dianggap bisa membuat orang-orang menjadi militan.Abu Jibril juga pernah dituding terlibat dalam aktivitas JI dan organisasi Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) yang disebut-sebut terkait terorisme. Namun lagi-lagi keluarganya membantah hal itu. Alasannya, selama tiga tahun ditahan di Malaysia, polisi Malaysia tidak pernah menemukan bukti ke arah itu. Setelah menjalani masa tahanan, Abu Jibril dideportasi ke Indonesia. (umi/)


Berita Terkait