detikNews
Minggu 17 Desember 2017, 10:26 WIB

Di Aksi Bela Palestina, Anies Baca Puisi Karya Taufik Ismail

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
Di Aksi Bela Palestina, Anies Baca Puisi Karya Taufik Ismail Gubernur DKI Jakarta Anies Baswdan (Foto: Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak hanya berorasi di Aksi Bela Palestina. Anies juga membacakan puisi tentang Palestina karya Taufik Ismail.

"Puisi yang ditulis dengan hati, tentang Palestina. Palestina bagaimana aku bisa melupakanmu oleh Taufik Ismail," kata Anies di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (17/12/2017).


Puisi karya Taufik Ismail itu mengisahkan tentang siksaan dan penderitaan yang dialami warga Palestina akibat penjajahan. Meskipun jauh, penderitaan itu juga turut dirasakan Taufik yang tinggal beribu-ribu kilometer jaraknya dari Palestina.

Anies menutup puisinya dengan mendoakan para warga di Palestina. Dia berharap warga Palestina selalu diberi kesehatan dan semangat untuk berjuang mencapai kemerdekaannya.

"Insyaallah dari kegiatan ini maka pembelaan untuk Palestina semakin besar. Kita doakan ibu-ibu Palestina terus melahirkan pejuang dan mujahid yang mengantarkan pada kemerdekaan," ucap Anies.


Berikut petikan puisi 'Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu' tersebut:

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur'an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi airmataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami
Indonesia jua yang dizalimi mereka –
tapi saksikan tulang muda mereka yang patah
akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh
si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

'Allahu Akbar!' dan
'Bebaskan Palestina!'

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum'at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
'laquwwatta illa bi-Llah!'

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.


(ams/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com