Kenangan Sang Putri Temani Hari-hari Terakhir AM Fatwa

Indra Komara - detikNews
Kamis, 14 Des 2017 19:16 WIB
Dian Fatwa, putri AM Fatwa di TMP Kalibata Foto: Indra Komara/detikcom
Jakarta - Dian Islamiati Fatwa, putri AM Fatwa cerita tentang hari-hari terakhir saat menemani sang ayah yang terbaring lemah di RS MMC. Meski sedih, dia bersyukur bisa mendampingi ayahnya sebelum tutup usia.

Dian tampak sedih saat jenazah ayahnya dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (14/12/2017). Air mata membasahi pipi Dian yang mengenakan busana putih dan kerudung berwarna hitam.

Suasana perpisahan untuk selamanya itu makin haru saat Dian meletakkan karangan bunga di atas makam ayahnya. Dua kali Dian mencium nisan makam ayahnya sebelum meninggalkan TMP Kalibata.

Ketika diwawancarai wartawan, Dian mengaku memang sangat kehilangan sosok ayahnya itu. Tapi dia bersyukur karena bisa menemani hari-hari terakhir sebelum sang ayah tutup usia di RS MMC.

"Saya tinggal di Australia, tapi alhamdulillah bisa menghabiskan banyak waktu dengan ayah," kata Dian.

Dian Fatwa, putri AM Fatwa di TMP KalibataDian Fatwa, putri AM Fatwa di TMP Kalibata Foto: Indra Komara/detikcom

Hari-hari Dian belakangan ini disibukan hanya untuk menemani ayahnya. Sejak pagi hingga larut malam Dian selalu berbagi cerita.

Dia bersyukur ayahnya masih bisa menebar tawa meski dalam keadaan sakit. Sehingga momen tersebut jadi waktu yang paling membekas sebelum ayahnya tutup usia.

"Tiap hari saya pulang jam 10 malam banyak bercerita tentang tokoh politik tentang peristiwa lucu. sehingga kami terbahak-bahak sampai 10 malam. Ini peristiwa tak terlupakan ketika saya berduaan dengan ayah," ujarnya.


Dian kemudian mengenang masa-masa saat dirinya membacakan berbagai berita politik untuk ayahnya. Kata Dian, AM Fatwa paling bersemangat ketika mendengat situasi politik di Indonesia.

"Karena ayah tidak membaca koran lagi jadi saya membacakan koran dan berita online. Biasanya beliau berkomentar dan ketika berkomentar itu lucu-lucu. Dari situ saya bisa tahu peta politik," ujarnya.

Kepada wartawan, Dian juga berbagi cerita tentang ayahnya yang terlibat Tragedi Tanjung Priok tahun 1984. Pada saat itu, AM Fatwa menurutnya dipenjara karena mengungkap kebenaran dan dianggap melawan pemerintah.

Dian Fatwa, putri AM Fatwa di TMP KalibataDian Fatwa, putri AM Fatwa di TMP Kalibata Foto: Indra Komara/detikcom

"Saya ingat ketika saya datang ayah cerita tidak bisa tidur karena harus menyaksikan kadernya dipukul oleh militer pada saat itu. Jadi ayah tidak dipukul tapi justru kadernya dipukul di DPD dia," kata Dian.

Menurut Dian, apa yang dilakukan kepada ayahnya pada saat itu yakni kekerasan dalam bentuk psikologis untuk mematahkan semangat perjuangan ayahnya.

Air mata Dian sempat menetes ketika menceritakan keadaan ayahnya disiksa pada peristiwa itu. AM Fatwa, lanjut Dian, sempat dipukuli dan mengalami banyak penyiksaan.

"Waktu saya SMA ayah sedang menyetir mobil tiba-tiba saya dapat berita saya harus ke rumah sakit ternyata ada intel yang berupaya untuk mencelurit ya, jadi kalau dilihat itu mukanya itu sebetulnya ada bekas dicelurit," paparnya.

"Air ledeng itu juga diracun sehingga kami tidak bisa minum air ledeng selama beberapa bulan," lanjut Dian.


Dari penjelasan Dian, penyakit yang diderita ayahnya itu berawal dari penyiksaan tersebut. Penyakit kanker yang diidap AM Fatwa akibat pemakaian jarum suntik yang tidak steril.

AM Fatwa Dimakamkan di TMP KalibataAM Fatwa Dimakamkan di TMP Kalibata Foto: Lamhot Aritonang

"Nah ketika kenapa beliau sakit kanker ini adalah saat di penjara itu kan kadang-kadang sakit ya, sakitnya itu diganti-ganti suntikan, karena tidak tersedia alat suntik available yang ada sehingga ketika disuntik itu ya bekas suntikan narapidana itu yang membuat kena hepatitis B dan hepatitis C yang menjadi asal mula kanker," katanya.

"Ya saya pikir negara bertanggung jawab ya terhadap peristiwa ini karena rezim yang melakukan itu," lanjut Dian.

Dian berharap ada pihak yang bisa meneruskan perjuangan ayahnya untuk menegakkan demokrasi. Sebab, dia melihat banyak anak muda yang sudah kehilangan ideologi perjuangan seperti yang dilakukan ayahnya. (hri/fdn)