Ketika AM Fatwa Bersiasat Mengelabui Hakim

Aryo Bhawono - detikNews
Kamis, 14 Des 2017 16:45 WIB
Foto: Andhika Akbariansyah
Jakarta - Psikolog Reza Indragiri Amriel punya kenangan tersendiri terhadap sosok Andi Mappetahang (AM) Fatwa. Dia mengaku pernah mendapatkan cerita bagaimana Fatwa bersiasat di persidangan untuk mendapatkan simpati dari majelis hakim. Maklum, semasa penyidikan dia nyaris tak pernah lepas dari siksaan.

"Pak Fatwa bercerita, semasa dipenjara diazab habis-habisan. Sakit tak ketulungan. Tapi serunya, Fatwa masih bisa bersiasat di persidangan," ucap Reza saat berbincang dengan detik.com, Kamis (14/12/2017).

Di depan persidangan Fatwa menghuyung-huyungkan badan sehingga nampak lemah. Lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada 12 Februari 1939 itu lantas ambruk dan membiarkan sarungnya tersibak. Kemaluannya terlihat karena tak memakai celana dalam. Persidangan pun langsung ditutup hari itu. Fatwa berhasil mengelabui hakim untuk menyudahi sidang.

Fatwa yang merupakan politisi Partai Amanat Nasional pernah menjadi Wakil Ketua DPR di awal reformasi. Dia kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah sejak 2009, hingga Kamis (14/12/2017) maut menjemputnya. Fatwa diketahui mengidap kanker hati dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center.

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak mengaku pernah mendapat cerita sama ikhwal Fatwa yang bersiasat di hadapan hakim itu. Menurut dia, hal itu terpaksa dilakukan karena Fatwa dipaksa ikut sidang.

Selain berakting seolah terjatuh dari kursi terdakwa, Fatwa juga pernah sengaja kena diare. Sebelum sidang dia sengaja mengkonsumsi berbagai makanan yang tak bersih. "Saya benar -benar kena diare lo, meski saya memang makan sesuatu supaya kena diare," ucap Dahnil menirukan Fatwa.

Dahnil menegaskan sikap Fatwa ini adalah bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan rezim kala itu. Berbeda dengan apa yang dilakukan Setya Novanto di persidangan Tipikor, Rabu (13/12/2017). Terdakwa kasus korupsi, kata Dahnil, bersiasat sakit guna menghindar pengadilan.

Fatwa, bagi Dahnil, merupakan sosok hebat yang melanjutkan sikap sang 'Guru Bangsa' HOS Tjokroaminoto. Ia melestarikan politik waras dalam sikap maupun pemikiran.

(jat/erd)