Novel Baswedan: Banyak yang Ingin Jadi Whistleblower, tapi Khawatir

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Kamis, 14 Des 2017 11:44 WIB
Video conference Novel Baswedan dalam diskusi Indonesialeaks. (Aditya Fajar/detikcom)
Jakarta - Penyidik senior KPK Novel Baswedan berbagi cerita terkait peran informan publik (whistleblower) dalam pemberantasan korupsi. Banyak yang ingin menjadi whistleblower tapi ada kekhawatiran.

"Setiap perkara besar selalu ada whistleblower atau informan publik dalam pengungkapan perkara. Kendalanya, masih banyak orang yang ingin memberikan keterangan. Mereka khawatir akan keselamatannya," kata Novel melalui video conference dalam diskusi Indonesialeaks, Jl Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, Kamis (14/12/2017).

Lanjut Novel, informasi publik biasa terjadi pada saat awal perkara ataupun saat pelaporan sedang berjalan. Saat itu pula KPK harus bisa memilah-milah informasi awam dan valid.

"Kalau informasi yang disampaikan orang awam yang tahu dan berniat melaporkan adanya korupsi memang sulit. Namun di sisi lain, informasi dari orang yang benar terlibat langsung dalam proses itulah yang lebih valid dalam memberikan informasi," jelasnya.

Novel Baswedan: Banyak yang Ingin Jadi Whistleblower, Tapi KhawatirVideo conference Novel Baswedan dalam diskusi Indonesialeaks. (Aditya Fajar/detikcom)


Novel memahami problematika para whistleblower untuk membuktikan adanya perkara korupsi. Untuk itu, kerahasiaan identitas sangat dijamin oleh KPK.

"Kebutuhan keamanan bagi whistleblower paling penting itu untuk tidak diketahui atau merahasiakannya dari publik. Sepanjang informasi korupsi yang diketahuinya," ucap Novel.

Selain Novel, Kordinator ICW Adnan Topan Husodo turut hadir dalam peluncuran dan diskusi Indonesialeaks, yang mengangkat tema 'Peran Informan Publik dalam Pemberantasan Korupsi'. (adf/idh)